LayarHijau.com – Drama China Pursuit of Jade (逐玉) yang dibintangi Zhang Linghe dan Tian Xiwei tengah menikmati kepopuleran luar biasa. Zhang Linghe memerankan Wu’an Hou Xie Zheng, sementara Tian Xiwei berperan sebagai Fan Changyu, seorang wanita tukang jagal. Dalam cerita, keduanya menjadi pasangan suami istri yang bertarung bersama melawan musuh, sekaligus membantu Fan Changyu membalas dendam atas kematian tragis kedua orang tuanya.
Kombinasi aksi, emosi, dan kerja sama kuat antara dua karakter utama membuat drama ini melesat dengan cepat. Angka penayangannya bahkan menembus 2,7 miliar, hingga Pursuit of Jade disebut sebagai salah satu drama paling fenomenal tahun 2026.
Drama ini diadaptasi dari novel berjudul 侯夫人与杀猪刀 (The Marquis’ Wife and the Butcher’s Knife / “Istri Marquis dan Pisau Tukang Jagal”) karya Tuanzi Laixi yang sudah memiliki basis penggemar besar sebelum diangkat ke layar. Namun setelah versi drama tayang, banyak pembaca novel melayangkan kritik karena sejumlah perubahan besar dalam cerita.

Perubahan pertama yang paling disorot adalah penghapusan adegan-adegan penting milik Fan Changyu. Dalam novel, ia digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dan penuh strategi. Perjalanannya dari tukang jagal menjadi jenderal wanita dibangun secara bertahap melalui berbagai peristiwa besar.
Salah satu adegan paling ikonik adalah ketika Fan Changyu sendirian menghadapi dan membunuh beruang hitam. Momen ini menjadi penegasan awal atas kekuatan dan keberaniannya. Selain itu, ia juga memimpin strategi cerdas untuk merebut logistik musuh, menunjukkan kemampuan taktisnya di medan perang. Namun dalam versi drama, adegan membunuh beruang hitam tersebut tidak ditampilkan sama sekali, sementara perebutan logistik musuh diubah menjadi aksi penyergapan sederhana. Perubahan ini membuat karakter Fan Changyu dinilai kehilangan kecerdikan dan justru terlihat impulsif.

Perubahan kedua berkaitan dengan adegan Xie Zheng menerima hukuman 108 cambukan. Dalam novel, ia secara sukarela meminta hukuman tersebut setelah mengetahui bahwa wanita yang ia cintai adalah putri musuhnya. Keputusan itu menjadi simbol konflik batin yang mendalam—antara cinta dan masa lalu yang kelam.
Namun dalam versi drama, adegan ini diubah. Hukuman tidak lagi datang dari dirinya sendiri, melainkan diberikan oleh pamannya, Wei Yan, yang juga merupakan perdana menteri. Padahal, dalam cerita, Wei Yan mengetahui kebenaran tragedi masa lalu dan memahami bahwa orang tua Fan Changyu tidak bersalah. Perubahan ini dinilai tidak logis oleh penggemar novel.
Perubahan ketiga adalah pemangkasan adegan hubungan suami istri antara Xie Zheng dan Fan Changyu. Dalam novel, alurnya cukup panjang: Xie Zheng dijebak hingga terkena obat, Fan Changyu datang menyelamatkannya, dan keduanya sempat bersembunyi di dalam gua batu.

Di dalam gua tersebut, Xie Zheng berusaha menahan efek obat namun tetap menunjukkan kedekatan fisik dengan Fan Changyu hingga akhirnya dipukul pingsan. Setelah kembali ke rumah, meski sudah diperiksa tabib, efek obat masih belum hilang. Dari situ, hubungan keduanya berkembang ke tahap yang lebih dalam sebagai suami istri.
Namun di versi drama, rangkaian ini dipangkas drastis. Cerita hanya menampilkan Fan Changyu memukul Xie Zheng hingga pingsan, lalu langsung berpindah ke adegan di kediaman mereka. Bahkan dialog yang muncul terasa tiba-tiba, “Obatnya belum hilang?”, tanpa pembangunan emosi yang lengkap.
Meski menuai kritik dari pembaca novel, Pursuit of Jade tetap mempertahankan popularitasnya dan terus menjadi perbincangan hangat di kalangan penonton.










