Sinopsis:
Mengisahkan Fan Changyu, putri seorang penjagal babi dan Xie Zheng, seorang bangsawan yang berusaha balas dendam. Pernikahan palsu mereka berubah menjadi cinta sejati, tapi perang memisahkan mereka. Fan Changyu kemudian memutuskan maju ke medan perang dengan pisau penjagalnya, mencari keadilan dan suaminya. Sementara, Xie Zheng mengklaim kembali gelarnya sebagai bangsawan, berperang demi melindungi negaranya dan cintanya.

Di tengah drama sejarah yang sering menonjolkan ambisi dan perebutan kekuasaan, Pursuit of Jade menghadirkan kisah cinta yang tetap bertahan di tengah dunia yang keras. Hubungan antara Xie Zheng (diperankan Zhang Linghe) dan Fan Changyu (diperankan Tian Xiwei) menjadi pusat cerita, di mana keduanya berjuang mempertahankan perasaan mereka di tengah intrik politik dan peperangan. Saat orang-orang di sekitar mereka rela mengorbankan keluarga, sahabat, dan bangsa demi kekuasaan, pasangan ini justru berpegang pada cinta, meskipun berasal dari latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda.
Drama ini menawarkan premis yang sangat unik melalui dinamika gender roles swapping. Fan Changyu digambarkan sebagai gadis penjagal babi yang tangguh dan memiliki kekuatan fisik luar biasa—sebuah profesi yang ia jalani demi menyambung hidup keluarga setelah kematian orang tuanya. Di sisi lain, Xie Zheng adalah Marquis Wu’an yang berada dalam pelarian setelah terluka parah akibat konspirasi pembunuhan. Demi menyembunyikan identitas bangsawannya dan sebagai bentuk balas budi setelah diselamatkan, Xie Zheng setuju menjadi suami matrilocal bagi Fan Changyu. Keputusan ini juga diambil untuk membantu Changyu mengamankan aset rumah dan propertinya yang terancam direbut paksa oleh pamannya yang tamak. Kontras ini menciptakan narasi yang segar, terutama saat melihat Fan Changyu dengan penuh tekad menyatakan niatnya untuk bekerja keras sebagai penjagal babi demi menafkahi Xie Zheng yang tengah memulihkan diri. Hubungan ini membalikkan pakem tradisional di mana “istri” berperan sebagai pelindung ekonomi dan fisik bagi “suami” yang sedang dalam penyamaran.
Kisah ini dikemas dengan visual yang memikat, diawali dengan latar kota kecil sederhana di musim dingin yang menghadirkan suasana sepi dan tenang. Secara teknis, sinematografinya berhasil menangkap kontras antara kehangatan hubungan manusia dengan dinginnya lanskap salju yang melambangkan isolasi emosional para tokohnya. Pada bagian awal, Pursuit of Jade menghadirkan perpaduan antara unsur kehidupan sehari-hari (slice of life), komedi, dan misteri, dengan nuansa romansa yang dibangun secara perlahan. Seiring berjalannya cerita, alur berkembang menuju konflik utama yang melibatkan intrik kekuasaan, peperangan, serta upaya mengungkap fakta di balik tragedi belasan tahun lalu yang mengubah kehidupan Xie Zheng dan Fan Changyu.
Perpaduan berbagai emosi dalam drama ini terasa cukup kuat, terutama saat menampilkan dampak perang dan tragedi kemanusiaan. Drama ini menunjukkan dengan jelas bagaimana nyawa manusia bisa dianggap murah demi kekuasaan. Tanpa penjelasan berlebihan, penonton diperlihatkan bahwa perang, apa pun tujuannya, selalu memiliki harga yang mahal—baik secara finansial, emosional, maupun dalam hal nyawa manusia itu sendiri.
Bobot emosional dari tragedi kemanusiaan tersebut mustahil tersampaikan tanpa ketangkasan akting para pemerannya. Zhang Linghe dan Tian Xiwei mampu menghidupkan karakter utama dengan baik, sementara para pemeran pendukung seperti Deng Kai, Snow Kong, Lin Muran, Li Qing, dan Yu Zhongli juga tampil solid. Deng Kai memberikan performa yang menghantui sebagai Qi Min, sosok yang memikul trauma fisik mendalam setelah dibakar oleh ibunya sendiri sebagai trik ekstrem untuk menukar identitasnya dengan kakak asli dari karakter Lin Muran agar bisa lolos dari pembantaian. Kepedihan batin akibat hidup dengan identitas palsu di tengah keluarga musuh inilah yang mentransformasi dirinya menjadi sosok kejam dan posesif. Begitu pula dengan tokoh Sui Yuanqing (diperankan Lin Muran), yang dibesarkan dengan meniru setiap gerak-gerik Xie Zheng, namun tumbuh dengan moralitas yang retak hingga memandang nyawa orang lain sebagai sesuatu yang tak bernilai. Kehadiran mereka menciptakan dinamika antagonis yang “sakit” namun kompleks.
Selain akting dan visual, soundtrack drama ini juga layak mendapat apresiasi. Pemilihan lagu terasa tepat dan mampu memperkuat suasana emosional dalam cerita. Lagu penutup seperti Careful with Fate yang dibawakan oleh JJ Lin serta A Single Thought yang dinyanyikan secara duet oleh Zhang Zining dan Li Xinyi menyampaikan tema besar drama tentang cinta di tengah situasi yang penuh konflik dengan cukup kuat.
Pujian lain juga patut diberikan pada usaha tim drama yang secara kreatif memindahkan cerita dari media tulisan novel ke dalam bentuk visual. Tuan Zi Lai Xi memiliki gaya yang unik dalam menggunakan pendekatan cerita yang serius untuk menggambarkan kelucuan para karakter di tengah tema yang berat dan interaksi yang kompleks. Drama ini mampu menerjemahkan keunikan gaya tersebut dengan baik, terutama melalui kontras antara unsur komedi dengan background musik yang syahdu, ekspresi wajah beberapa karakter yang tetap serius, serta setting musim dingin yang menghadirkan kesan sepi, sunyi, dan tenang.
Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, terdapat beberapa kekurangan yang patut dikritisi. Jika melihat desain karakter Qi Min, Yu Qian Qian, dan Sui Yuanqing, terlihat bahwa tim drama sebenarnya memahami bagaimana menciptakan karakter yang menarik dan meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Hal ini justru menimbulkan pertanyaan: apakah tim drama sengaja meningkatkan desain karakter pemeran pendukung dan menambah porsi adegan mereka secara signifikan? Jika iya, mengapa hal tersebut dilakukan dengan mengorbankan pengembangan karakter Xie Zheng dan Fan Changyu serta mengurangi durasi adegan mereka?
Contohnya, karakter Putri Agung Qi Shu (diperankan oleh Yu Zhongli) dalam novel hanya muncul dalam porsi kecil di pertengahan dan menjelang akhir cerita. Perannya terbatas pada membantu Gongsun Yin menyelidiki kasus kebakaran istana 17 tahun lalu. Namun dalam drama, karakter ini mengalami perubahan baik dari segi desain maupun porsi kemunculan. Hal serupa juga terjadi pada Yu Qian Qian yang tampil berbeda dari versi novel. Penampilan Yu Zhongli dan Snow Kong memang cukup menarik sehingga perubahan ini tidak terlalu dipermasalahkan oleh penonton umum. Namun, dampaknya tetap terasa pada karakter utama Xie Zheng dan Fan Changyu yang tidak mendapatkan pengembangan maksimal.
Dalam novel, Fan Changyu tidak hanya dikenal karena kekuatan fisiknya, tetapi juga karena perkembangan karakternya. Ia digambarkan tumbuh dari gadis polos yang tinggal di kota kecil menjadi sosok yang cerdik. Beberapa adegan penting dalam novel menunjukkan sisi tersebut, mulai dari pertarungan melawan beruang saat mencari daging hingga strategi yang ia gunakan di medan perang. Namun, banyak dari bagian ini tidak ditampilkan dalam drama. Padahal, penguatan pada aspek kekuatan fisik ini sangat penting untuk mendukung citra Fan Changyu sebagai jenderal wanita masa depan.
Kekuatan fisik Xie Zheng dalam novel juga tidak dibahas secara mendalam dalam drama. Di novel, paling tidak ada empat karakter yang memiliki kekuatan fisik setara atau bahkan mengalahkan Fan Changyu, yaitu ayahnya Wei Qilin, Wei Yan, guru Xie Zheng, dan Xie Zheng sendiri. Marquis Wu’an tidak hanya digambarkan sebagai sosok yang tampan dan pintar berstrategi, tetapi juga memiliki kekuatan fisik dan keterampilan bela diri yang membuatnya istimewa, sebagai salah satu dari segelintir elit. Keduanya digambarkan sebagai petarung yang seimbang, dengan Xie Zheng sedikit lebih unggul dalam pengalaman tempur. Namun, kelebihan-kelebihan ini seolah dikurangi dalam versi drama, yang seharusnya diperkuat lagi untuk memberikan kontras yang lebih tajam saat ia berperan sebagai “suami rumah tangga” di awal cerita.
Hal lain yang patut disorot adalah prestasi militer Fan Changyu. Dalam novel, ia menjadi jenderal wanita pertama di Dayin bukan hanya karena satu atau dua pencapaian besar, tetapi melalui proses panjang dari bawah dan berbagai peperangan. Dalam salah satu peperangan, demi mempertahankan kota dari serangan pasukan Qi Min agar penduduk selamat, Fan Changyu bersama sekelompok kecil prajurit memilih maju sebagai pasukan bunuh diri. Kelompok ini kemudian dihadang oleh pasukan pembunuh elit milik Qi Min. Dengan formasi yang mematikan, hampir seluruh anggota tim Fan Changyu gugur. Bahkan Fan Changyu yang memiliki kekuatan luar biasa pun tidak mampu melawan hingga berada di ambang kematian, sebelum akhirnya diselamatkan oleh Xie Zheng. Peristiwa ini menjadi titik penting yang mengubah dinamika hubungan mereka.
Selain itu, dalam novel juga dijelaskan bahwa Fan Changyu merupakan murid dari Guru Besar Tao Yi, yang mengajarkannya berbagai strategi militer yang kemudian ia gunakan di medan perang. Namun, bagian penting ini tidak ditampilkan dalam drama. Akibatnya, pencapaian Fan Changyu dalam drama terasa berkurang, seolah-olah ia mencapai posisi tersebut lebih karena intrik perebutan kekuasaan antara faksi Wei dan Li, bukan karena kemampuan dan perjuangannya sendiri.
Pursuit of Jade memang bukan satu-satunya drama China yang mengurangi porsi karakter utama untuk memberi ruang lebih besar bagi karakter pendukung. Bagi penonton yang belum membaca novelnya, hal ini mungkin tidak menjadi masalah karena mereka tidak mengetahui perbedaan tersebut. Namun, penambahan porsi karakter pendukung ini pada akhirnya juga memengaruhi alur cerita. Konflik utama terasa lebih sederhana, dan bagian akhir cerita berjalan terlalu cepat.
Dalam novel, peperangan terakhir melibatkan tiga faksi besar: pihak Wei Yan, Qi Min, dan Xie Zheng. Xie Zheng dan Fan Changyu disergap dalam kondisi tidak siap, sementara kekuatan musuh dibagi untuk menyerang istana. Dalam situasi tersebut, keduanya harus bertarung mati-matian dengan jumlah pasukan yang terbatas. Xie Zheng tidak hanya menghadapi Wei Yan, tetapi juga gurunya sendiri, yang memiliki kekuatan setara. Pertarungan berlangsung sengit dan penuh risiko. Di sisi lain, Fan Changyu juga berjuang untuk keluar dari sergapan dan mengumpulkan pasukan untuk membantu.
Namun, dalam drama, peperangan ini ditampilkan secara singkat. Pertarungan antara Xie Zheng dan Wei Yan terasa kurang memuaskan, sementara Fan Changyu hanya muncul sekilas tanpa peran yang signifikan. Sebagian besar adegan pertarungan dan peperangan dalam drama ini memang tidak digambarkan secara maksimal, terutama jika dibandingkan dengan versi novel. Pada akhirnya, kesan yang muncul adalah bahwa drama ini lebih menonjolkan kisah cinta antar karakter serta konflik personal, dibandingkan intrik politik dan peperangan yang seharusnya menjadi bagian penting cerita.
Akan lebih baik jika tim drama dapat menyeimbangkan pengembangan karakter utama dan pendukung, serta memberi porsi yang lebih seimbang antara romansa dan konflik besar. Dengan begitu, drama ini tidak terkesan sebagai kisah romansa yang dibungkus intrik politik dan peperangan, tetapi benar-benar menghadirkan keduanya secara seimbang.










