Wajah Zhang Jingyi, Xiao Zhan, dan Dilraba Dilmurat Dipakai Tanpa Izin dalam Drama Pendek Berbasis AI

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com— Industri drama pendek Tiongkok kini tengah dilanda krisis etika serius akibat penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang berkembang tanpa kendali. Baru-baru ini, studio resmi aktris Zhang Jingyi merilis pernyataan tegas terkait pencurian citra wajah sang aktris melalui teknologi AI face-swap dalam berbagai drama pendek tanpa izin. Fenomena ini mencuat saat drama berjudul Step by Step, yang menceritakan intrik romansa dan persaingan bisnis, ditemukan mengganti wajah pemeran aslinya dengan fitur wajah Zhang Jingyi secara digital mulai dari episode ketujuh. Praktik ilegal ini sangat merugikan sang aktris karena drama tersebut telah mencapai popularitas lebih dari 30 juta penonton di platform terkait, menyebarkan konten menyesatkan yang merusak reputasi profesionalnya.

Kasus ini bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari tren yang mengkhawatirkan di mana deretan bintang papan atas menjadi target empuk. Selain Zhang Jingyi, nama-nama besar seperti Yang Zi, Xiao Zhan, Dilraba Dilmurat, Deng Wei, hingga Jackson Yee turut menjadi korban. Para aktor papan atas ini mendapati wajah mereka dipindahkan secara digital ke dalam karakter-karakter di drama pendek berkualitas rendah yang sering kali memiliki alur cerita melodrama yang berlebihan atau tidak masuk akal. Tanpa kontrak resmi maupun kompensasi, profil mereka digunakan untuk menarik klik dari penggemar yang terkecoh, menciptakan siklus rekomendasi algoritma yang terus menyebarkan konten bajakan ini ke khalayak luas.

Dalam pengumumannya, studio Zhang Jingyi mengecam keras tindakan platform dan kreator yang menggunakan teknologi ini secara tidak bertanggung jawab. Mereka menekankan bahwa penggunaan fitur wajah artis tanpa persetujuan adalah pelanggaran hak potret yang serius. “Pihak platform menggunakan teknologi AI untuk mencangkokkan fitur wajah Zhang Jingyi ke karakter dalam drama. Hal ini tidak hanya menyesatkan penonton, tetapi juga memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap citra publik sang artis,” tegas perwakilan studio tersebut dalam pernyataan resminya. Mereka menuntut penghapusan segera terhadap konten terkait dan berencana mengambil langkah hukum lebih lanjut untuk melindungi hak-hak sang aktris.

- Advertisement -

Ledakan fenomena ini dipicu oleh rendahnya ambang batas teknologi dan tingginya potensi keuntungan finansial. Jika sebelumnya proses AI face-swap membutuhkan teknik yang rumit, kini alat berbasis AI memungkinkan pembuatan konten serupa hanya dengan satu klik dan biaya yang hampir nol. Banyak studio kecil dan individu yang mengejar keuntungan cepat melalui pembagian pendapatan iklan dari video viral, mengabaikan hak kekayaan intelektual sama sekali. Di sisi lain, sistem moderasi platform yang masih bergantung pada kata kunci sering kali gagal mendeteksi konten AI yang sangat realistis, sehingga penanganan kasus hukum tertinggal jauh di belakang kecepatan produksi konten ilegal tersebut.

Dampak dari penyalahgunaan AI ini sangat merugikan bagi aktor yang memiliki citra kuat di mata publik. Aktris seperti Yang Zi yang dikenal melalui drama-drama populer nasional, atau Zhang Jingyi dengan citra gadis literatnya, kini harus menanggung risiko reputasi atas peran yang tidak pernah mereka ambil. Kehadiran konten berkualitas rendah ini membuat batas antara kenyataan dan fiksi menjadi kabur, yang dapat menyesatkan penonton awam dalam menilai integritas sang artis. Selain itu, maraknya konten spekulatif berbiaya rendah ini mulai mengikis ruang kreatif bagi drama pendek yang digarap secara serius, karena industri semakin condong pada gimmick trafik daripada kualitas naskah dan produksi.

Meskipun teknologi AI pada dasarnya bersifat netral, penggunaannya yang tanpa etika telah mengganggu tatanan industri hiburan. Krisis yang dialami oleh Xiao Zhan dan Dilraba Dilmurat ini menjadi pengingat mendesak akan perlunya mekanisme pertanggungjawaban yang lebih jelas dan seragam dalam industri digital. Tanpa regulasi yang ketat dan pengawasan platform yang lebih proaktif, eksploitasi citra publik selebriti akan terus menjadi alat bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan di atas kerugian moral para seniman.

- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments