CEO iQIYI: Biaya Produksi Film dan Drama Tinggi, Hanya 30–40 Persen Menguntungkan, AI Jadi Solusi

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Pendiri sekaligus CEO iQIYI, Gong Yu, mengungkapkan kondisi mengkhawatirkan dalam industri film dan drama saat ini. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri forum industri dalam ajang Beijing International Film Festival pada 17 April.

Dalam pemaparannya, Gong Yu secara blak-blakan menyoroti tingginya biaya produksi yang membebani industri. Ia mengatakan, “Masalah pertama yang dihadapi industri adalah biaya produksi. Baik online maupun offline, baik film maupun drama, biayanya terlalu tinggi.”

Ia bahkan menegaskan bahwa dari sudut pandang investor, kondisi ini sangat tidak ideal. “Jika dilihat dari perspektif manajer investasi, kemungkinan rugi itu besar, sementara peluang untung justru kecil,” ujarnya.

- Advertisement -

Gong Yu juga mengungkapkan bahwa tingkat keuntungan untuk drama yang tayang secara online masih tergolong rendah. “Untuk drama online, hanya sekitar 30 persen yang bisa menghasilkan uang. Dalam kondisi terbaik, mungkin 40 persen,” katanya.

Menurutnya, selama lebih dari satu dekade terakhir, berbagai komponen biaya di industri terus meningkat, yang secara langsung memperbesar risiko finansial. “Semua biaya meningkat dalam sepuluh tahun terakhir, sehingga risiko investasi makin besar. Akibatnya, orang berinvestasi lebih sedikit, dan jumlah karya juga berkurang,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat yang kini semakin beragam. “Dunia ini bukan hanya film dan drama. Ada drama pendek, animasi, dan banyak bentuk hiburan lainnya. Kalau yang ini tidak menarik, penonton akan beralih ke yang lain,” ujarnya.

- Advertisement -

Gong Yu kemudian menyinggung fenomena “lipstick effect” dalam industri hiburan. “Efek lipstik itu selalu ada, tetapi ‘lipstik’-nya sekarang bukan film atau drama, melainkan drama pendek,” tambahnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, ia menekankan pentingnya menekan biaya produksi. Salah satu solusi yang dinilai paling potensial adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). “Dari sudut pandang ekonomi, kita harus menurunkan biaya. Salah satu peluangnya adalah AI. Jika teknologi AI digunakan secara luas di masa depan, biaya bisa turun drastis—menjadi sepertiga, seperlima, bahkan sepersepuluh dari sekarang,” pungkasnya.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments