Novel Asli Overdo Bukan Kisah Cinta, Melainkan Kritik terhadap Feodalisme Era Republik Tiongkok

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

Murong Qingyi di Novel dan Drama: Dari Korban Menjadi Simbol Sistem Feodal

Salah satu perubahan terbesar dalam adaptasi Overdo terletak pada sosok Murong Qingyi. Meski menggunakan nama karakter yang sama, kepribadian dan perannya dalam cerita berubah hampir sepenuhnya.

Dalam drama, Murong Qingyi dibangun sebagai karakter yang mengundang simpati. Sebaliknya, novel justru menempatkannya sebagai salah satu penyebab utama tragedi yang dialami Ren Susu.

Murong Qingyi dalam Drama

Murong Qingyi yang diperankan Zhang Linghe merupakan pria dengan masa lalu penuh luka.

- Advertisement -

Sejak lahir ia menjadi korban pertukaran identitas, kehilangan keluarga kandung, ditolak oleh ibunya sendiri, hingga pernah hidup terlantar di jalanan. Semua pengalaman itu membentuk Qingyi menjadi sosok yang tertutup, dingin, tetapi sebenarnya berhati lembut.

(MyDramaList)

Ketika bertemu kembali dengan Ren Susu, Qingyi melihat perempuan itu sebagai satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Ia berkali-kali berusaha melindungi Susu, meski sering gagal karena berbagai kesalahpahaman dan intrik yang melibatkan keluarga Murong, keluarga Huo, hingga keluarga Li.

Dengan pendekatan seperti ini, drama menggambarkan Qingyi sebagai korban keadaan. Ia memang memiliki kekuasaan, tetapi tidak pernah benar-benar bebas menentukan jalan hidupnya sendiri.

- Advertisement -

Karena itu, penonton lebih mudah bersimpati kepadanya dan berharap ia akhirnya bisa memperoleh kebahagiaan bersama Ren Susu.

Murong Qingyi dalam Novel

Versi novel menghadirkan sosok yang jauh berbeda.

Murong Qingyi tetap merupakan putra keluarga panglima perang yang berkuasa. Namun, status itu bukan sekadar latar belakang, melainkan fondasi yang membentuk seluruh kepribadiannya.

Sejak kecil ia hidup dengan berbagai hak istimewa. Ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan dan tidak pernah mempertanyakan apakah tindakannya akan melukai orang lain.

Cara Qingyi memperlakukan Ren Susu menjadi contoh paling jelas.

Hubungan mereka diawali dengan kekerasan seksual yang kemudian memaksa Susu memasuki keluarga Murong. Setelah menikah, Qingyi memang mencintai istrinya, tetapi cintanya selalu diwujudkan melalui cara-cara yang menurutnya benar, tanpa pernah benar-benar memahami apa yang dirasakan Susu.

- Advertisement -

Ia memberi perhiasan.

Ia menyediakan rumah besar.

Ia membeli pakaian mahal.

Namun, ia gagal melihat bahwa istrinya setiap hari dihina oleh keluarga Murong dan para pelayan.

Ketika Susu menangis atau merasa tertekan, Qingyi menganggapnya terlalu sensitif. Ia tidak memahami bahwa penghinaan yang terus-menerus diterima istrinya perlahan menghancurkan harga diri dan semangat hidup perempuan itu.

Alih-alih menjadi pelindung, Qingyi justru memperkuat penderitaan Susu.

Ia membatasi kebebasan istrinya dengan alasan melindungi. Ia tidak mengizinkan Susu bekerja atau hidup seperti sebelum menikah. Rumah megah keluarga Murong berubah menjadi sangkar emas yang membuat Susu semakin terasing.

Novel tidak pernah berusaha membenarkan tindakan Qingyi.

Fei Wo Si Cun justru menunjukkan bahwa Qingyi merupakan hasil dari sistem feodal yang menempatkan laki-laki dari keluarga elite di posisi tertinggi. Ia tidak merasa perlu meminta persetujuan, tidak merasa harus menjelaskan tindakannya, dan tidak menyadari bahwa semua keputusan yang diambilnya selalu mengorbankan orang lain.

Cinta yang Tidak Pernah Cukup

Baik novel maupun drama sama-sama memperlihatkan bahwa Murong Qingyi mencintai Ren Susu.

Perbedaannya terletak pada cara cinta itu digambarkan.

Dalam drama, cinta Qingyi menjadi alasan mengapa ia terus berjuang melindungi Susu dari berbagai ancaman.

Dalam novel, cinta itu tidak pernah cukup untuk menghapus kesalahan-kesalahannya.

Qingyi memang mencintai Susu hingga akhir hayatnya. Ia menyesali semua yang telah terjadi dan menghabiskan bertahun-tahun mencari istrinya setelah mengira perempuan itu telah meninggal.

Namun, penyesalan tersebut tidak mengubah fakta bahwa sebagian besar penderitaan Susu justru bermula dari keputusan-keputusan Qingyi sendiri.

Melalui karakter inilah Fei Wo Si Cun menyampaikan kritik utamanya. Qingyi bukan digambarkan sebagai monster yang menikmati penderitaan orang lain. Ia tetap mampu mencintai, menyesal, bahkan mengorbankan dirinya demi orang yang dicintainya.

Masalahnya, cinta saja tidak cukup ketika seseorang dibesarkan dalam sistem yang membuatnya merasa selalu benar.

Itulah sebabnya Murong Qingyi dalam novel lebih tepat dipandang sebagai simbol feodalisme yang melahirkan ketimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan, sedangkan versi drama mengubahnya menjadi pria tragis yang sama-sama menjadi korban keadaan.

Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted