Posted in

Film Animasi Burik Niu Lai Digarap Cuma oleh Ibu dan Anak, Meski Dibully Kini Raup Rp64 Miliar

Bagikan

LayarHijau.com – Film animasi China Niu Lai (《牛來》) tengah menjadi fenomena box office yang tidak biasa. Meski kualitas visualnya ramai dikritik dan disebut “burik” oleh warganet, film yang hanya digarap oleh seorang ibu dan anak ini justru berhasil membalikkan keadaan hingga meraup lebih dari 24 juta yuan atau sekitar Rp64 miliar.

Niu Lai menjadi perhatian bukan hanya karena pencapaiannya di box office, tetapi juga karena proses pembuatannya yang sangat tidak biasa. Film berdurasi 86 menit tersebut dikerjakan hanya oleh sutradara Xin Yumeng dan ibunya, Sun Lifang, yang sebelumnya sama-sama tidak memiliki pengalaman dalam produksi film.

Dukung Layar Hijau

Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.

Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.


Untuk pengguna di Indonesia

Untuk pengguna internasional

Informasi lebih lanjut, klik di sini.

Keduanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk menyelesaikan film tersebut. Xin Yumeng menangani hampir seluruh pekerjaan teknis, mulai dari pemodelan, rigging, pencahayaan, rendering hingga penyuntingan dan pengisi suara. Sementara itu, Sun Lifang belajar menulis skenario dari nol, mengisi suara seluruh karakter perempuan, sekaligus menggarap musik untuk film tersebut.

Xin Yumeng sendiri sebelumnya bekerja di bidang desain lanskap, renovasi interior dan eksterior, serta pemodelan informasi bangunan. Ia lahir di Dalian pada 1992 dan mulai terpikir untuk membuat film setelah menonton banyak film animasi pada 2021.

Ia kemudian mengubah perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang dekorasi dan konstruksi menjadi perusahaan yang bergerak di bidang budaya, film dan televisi. Pada akhir 2021, proyek Niu Lai juga menyelesaikan proses pendaftarannya.

Namun, keputusan untuk beralih profesi tersebut membuat Xin Yumeng harus menghadapi tantangan besar. Ia mengaku awalnya merasa memiliki dasar dan potensi karena sejak kecil banyak menonton animasi, tetapi kenyataan ketika benar-benar membuat film ternyata jauh lebih sulit.

Menurutnya, perbedaan antara desain lanskap dan animasi sangat besar. Dalam desain lanskap, ia terbiasa memikirkan tata ruang secara makro, sedangkan animasi menuntut perhatian terhadap setiap frame dan emosi yang muncul di dalamnya.

“Walaupun sama-sama mengerjakan desain, perubahan ini terkadang sangat menyakitkan,” ujar Xin Yumeng ketika menceritakan proses peralihannya ke dunia animasi.

Keterbatasan dana membuat seluruh proses produksi harus dilakukan dengan peralatan seadanya. Xin Yumeng bahkan membeli komputer bekas untuk mengerjakan film tersebut. Karena beban kerja yang terlalu berat, komputer yang digunakan sempat mengalami kerusakan hingga motherboard-nya terbakar dan proses produksi pun ikut terganggu.

Selama lima tahun pengerjaan, Xin Yumeng tidak menggunakan tim outsourcing maupun investor eksternal. Ia mengerjakan sendiri pemodelan, rigging, pencahayaan, rendering dan penyuntingan. Ia juga terlibat dalam pengisian suara.

Minimnya pengalaman membuat proses produksi penuh dengan kesalahan dan percobaan berulang. Namun, kondisi tersebut justru memiliki satu keuntungan: karena ia mengerjakan semuanya sendiri, proses mengulang pekerjaan tidak menambah biaya tenaga kerja.

Keterbatasan itu akhirnya terlihat dalam hasil akhir Niu Lai. Film tersebut mendapat kritik karena sejumlah adegannya mengalami masalah teknis, seperti objek yang saling menembus, gerakan yang tersendat serta kualitas gambar yang kasar.

Meski begitu, Xin Yumeng tidak berusaha menyangkal kekurangan tersebut. Ia justru memiliki alasan sendiri mengapa memilih menyelesaikan film daripada terus mengejar kualitas visual yang sempurna.

“Penonton masuk ke bioskop bukan untuk melihat rambut dengan mikroskop. Kalau seluruh energi dihabiskan untuk ketepatan rendering, film ini tidak akan pernah selesai,” kata Xin Yumeng.

“Di antara detail dan keseluruhan cerita, saya memilih membiarkan ceritanya berjalan terlebih dahulu,” lanjutnya.

Niu Lai juga dibuat sepenuhnya tanpa bantuan AI. Xin Yumeng mengatakan seluruh film berdurasi 86 menit tersebut dibuat secara manual dengan pengerjaan keyframe dari frame ke frame.

Ia menjelaskan bahwa ketika film mulai diproduksi, teknologi AI belum berkembang seperti sekarang. Bahkan ketika ChatGPT muncul pada akhir 2022, teknologi tersebut masih belum matang untuk digunakan seperti saat ini.

Di tengah segala keterbatasan tersebut, Sun Lifang menjadi sosok yang tidak kalah penting dalam lahirnya Niu Lai. Sang ibu sebelumnya bekerja sebagai pegawai perusahaan milik negara dan sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam produksi film.

Namun, ia mempelajari penulisan skenario dari nol dan mengisi suara seluruh karakter perempuan dalam film tersebut. Ia bahkan belajar musik secara mandiri untuk menggarap musik Niu Lai.

Sun Lifang juga menulis, menggubah dan menyanyikan lagu penutup film berjudul Rain After the Storm (《雨後清風有香》).

Xin Yumeng mengaku sangat terkesan dengan kemampuan musik ibunya. Ia bahkan merasa kemampuan sang ibu dalam mengekspresikan emosi melalui musik lebih kuat daripada dirinya.

“Saya pada dasarnya hanya bisa membuat melodi, tetapi tidak bisa memberikan banyak emosi ke dalamnya,” ujar Xin Yumeng.

Menurutnya, sang ibu justru mampu menyampaikan perasaan yang sangat kuat melalui musik, terutama mengenai harapan terhadap masa depan dan ekspektasi terhadap generasi berikutnya.

Meski berhasil bekerja bersama selama lima tahun, hubungan ibu dan anak tersebut selama proses produksi tentu tidak selalu berjalan mulus. Xin Yumeng mengungkapkan bahwa perbedaan pendapat cukup sering terjadi.

“Bertengkar, berdebat, bahkan menggebrak meja, itu semua sering terjadi,” katanya.

Namun, setiap kali perdebatan terjadi, Xin Yumeng mengaku pada akhirnya lebih sering mendengarkan sang ibu. Ia merasa dirinya masih kurang memiliki pengalaman dalam kehidupan, sementara sang ibu sudah lebih banyak makan asam garam.

Menariknya, sebelum Niu Lai dirilis, Xin Yumeng sendiri tidak yakin film tersebut akan berhasil di pasaran. Film tersebut hampir tidak memiliki anggaran promosi dan nyaris tidak mendapatkan kampanye pemasaran besar.

Dalam wawancara yang dilakukan hanya empat hari sebelum film dirilis, ia mengaku sama sekali tidak memiliki gambaran mengenai hasil box office.

“Karena bisa tayang saja sudah merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Tetapi setelah tayang, bagaimana respons pasar dan seperti apa hasil akhirnya di box office, saya benar-benar tidak tahu,” ujar Xin Yumeng.

Perkiraan pesimistis tersebut ternyata tidak bertahan lama. Pada awal penayangan, Niu Lai memang sempat mencatat hasil yang mengecewakan. Namun, situasinya berubah setelah sejumlah cuplikan film tersebar luas di internet.

Kualitas visual yang sebelumnya menjadi bahan ejekan justru berubah menjadi daya tarik. Rasa penasaran publik membuat semakin banyak penonton datang ke bioskop untuk melihat sendiri film yang ramai dibicarakan tersebut.

Pendapatan film pun meningkat dan jumlah jadwal tayangnya ikut bertambah. Hingga 19 Agustus, Niu Lai telah meraup lebih dari 24 juta yuan atau sekitar Rp64 miliar.

Setelah filmnya viral, Xin Yumeng juga memberikan tanggapan terhadap berbagai kritik yang bermunculan di internet.

“Masih ada banyak bagian yang kasar dan tidak sempurna dalam Niu Lai. Saya membaca semua kritik satu per satu dengan serius,” tulis Xin Yumeng.

“Untuk semua pujian, saya sangat berterima kasih. Untuk semua keraguan, saya menerima semuanya,” lanjutnya.

Keviralan Niu Lai kini bahkan mulai membuka peluang bagi film tersebut untuk menjangkau pasar di luar China. Di Hong Kong, terdapat pembicaraan mengenai kemungkinan film tersebut ditayangkan setelah pihak Broadway Cinematheque merespons pertanyaan warganet dengan mengatakan bahwa mereka sedang membicarakannya.

Perhatian dari luar China juga muncul di Singapura. Belakangan beredar sebuah poster di internet yang mengklaim Niu Lai akan tayang di Singapura pada 1 September 2026.

Namun, informasi tersebut ternyata tidak benar. Setelah diperiksa, poster tersebut merupakan poster palsu dan belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal penayangan Niu Lai di Singapura.

Meski demikian, kabar mengenai poster palsu tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar. Memang terdapat distributor lokal Singapura yang sedang mempertimbangkan untuk membawa Niu Lai ke negara tersebut.

Di tengah kesuksesan yang tidak pernah diperkirakannya, Xin Yumeng ternyata sudah memikirkan film berikutnya. Bahkan sebelum Niu Lai dirilis, ia telah mulai mempersiapkan sekuelnya yang diberi judul Yang Gao (《羊高》).

Untuk proyek tersebut, ia masih berencana mempertahankan pola produksi independen dan tidak menerima investasi dari pihak luar. Meski demikian, Xin Yumeng tidak menyarankan orang lain mengikuti cara yang ia tempuh bersama ibunya.

Setelah menghabiskan lima tahun, menggunakan komputer bekas, bekerja tanpa tim besar dan menghadapi berbagai kritik karena kualitas visualnya, Xin Yumeng dan Sun Lifang justru berhasil membuat Niu Lai menjadi fenomena box office. Film yang awalnya nyaris tidak diperhitungkan tersebut kini bukan hanya menghasilkan puluhan miliar rupiah, tetapi juga mulai menarik perhatian pasar luar China.

Kaca Pembesar HP

Kaca Pembesar HP
★★★★ 4 Stars

Produk inovatif.

Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.

Kualitas hingga HD, harga murah meriah.

Cek Harga →

Holder Jepit HP

Holder Jepit HP
★★★★½ 4.5 Stars

Aksesoris tonton drama.

Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.

Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.

Cek Harga →

Proyektor HP

Proyektor HP
★★★★½ 4.5 Stars

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.

Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

Cek Harga →

Bagikan

Sources0HK01.com
Via0

Tim suka menulis berbagai hal, dan menonton film, serial TV, drama atau sekedar menonton video lainnya di YouTube. Pada waktu senggang, Tim suka belajar membuat ramen.

Your email address will not be published. Required fields are marked *