LayarHijau.com – Jing Boran dan Sun Qian menjadi pemeran utama drama China The Early Spring (《早春晴朗》) sebagai Luan Nian dan Shang Zhi Tao. Keduanya memerankan pasangan dengan hubungan yang penuh tarik-ulur, sehingga membangun chemistry menjadi salah satu bagian penting dalam proses mereka mempersiapkan karakter.
Dalam wawancara dengan Sohu Entertainment, Jing Boran dan Sun Qian mengungkap cara mereka menjadi lebih dekat sebelum dan selama syuting. Keduanya ternyata menemukan kedekatan dari kesamaan latar sebagai orang Timur Laut China, termasuk kebiasaan berbicara menggunakan dialek Timur Laut dan obrolan ringan mengenai malatang.
Dukung Layar Hijau
Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.
Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.
Untuk pengguna di Indonesia
Untuk pengguna internasional
Informasi lebih lanjut, klik di sini.
Sama-sama Orang Timur Laut, Jadi Makin Cepat Akrab
Sebelum bekerja sama dalam The Early Spring, Jing Boran dan Sun Qian sudah pernah bertemu di beberapa acara. Jing Boran mengaku sejak awal sudah memiliki kesan khusus terhadap Sun Qian dan berharap suatu saat bisa bekerja sama dengannya.
“Aku merasa Qian Qian di antara aktris muda adalah sosok yang sangat spesial. Dia sangat artistik dan memiliki kesan seperti seseorang yang menyimpan banyak cerita,” ujar Jing Boran.
Sun Qian juga mengaku sangat menantikan kesempatan bekerja dengan Jing Boran. Namun, Jing Boran awalnya justru menganggap Sun Qian sebagai sosok yang cukup dingin.
Kesan tersebut berubah setelah mereka semakin sering berinteraksi. Keduanya menyadari bahwa mereka sama-sama berasal dari wilayah Timur Laut China.
“Setelah berinteraksi, ternyata dia sama sepertiku. Kami sama-sama orang Timur Laut, sama-sama orang sekampung,” kata Jing Boran.
Kesamaan tersebut kemudian menjadi salah satu cara mereka membangun keakraban. Jing Boran mengaku lebih sering menggunakan bahasa atau dialek khas Timur Laut ketika berkomunikasi dengan Sun Qian secara pribadi.
“Aku merasa Qian Qian adalah teman bicaraku dalam bahasa Timur Laut. Aku juga hanya berbicara bahasa Timur Laut kepada Sun Qian,” ujarnya.
Sun Qian pun menikmati kebiasaan tersebut. Ia mengatakan kemampuan Jing Boran dalam menggunakan bahasa Timur Laut bahkan lebih kuat dibanding dirinya.
“Bahasa Timur Laut kakak seharusnya benar-benar jauh lebih tinggi tingkatannya daripada punyaku,” ujar Sun Qian.
Jing Boran bahkan mengungkapkan bahwa kebiasaan menggunakan dialek tersebut memang khusus ia lakukan ketika berbicara dengan Sun Qian. Ia mengatakan dirinya sebenarnya menggunakan bahasa lain ketika berbicara dengan sejumlah teman.
Sun Qian kemudian bercanda bahwa ia juga memahami bahasa Prancis yang digunakan Jing Boran dengan teman-temannya dan mempersilakannya menggunakan bahasa tersebut lain kali.
Obrolan Mereka Ternyata Banyak Membahas Malatang
Salah satu bagian paling menarik dari kedekatan mereka adalah topik obrolan sehari-hari. Jing Boran dan Sun Qian mengaku percakapan mereka melalui WeChat tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan atau akting.
Jing Boran bahkan bercanda bahwa orang Timur Laut tidak punya terlalu banyak topik untuk dibicarakan.
“Kalian pikir orang Timur Laut bisa membicarakan apa lagi? Paling-paling malatang,” kata Jing Boran.
Sun Qian kemudian membenarkan candaan tersebut.
“Kalau melihat riwayat chat kami, isinya malatang semua. Menemukan tempat malatang terbaru, cuma soal itu,” ujarnya.
Malatang (麻辣烫) sendiri merupakan hidangan berkuah pedas yang memungkinkan pengunjung memilih berbagai bahan, seperti sayuran, daging, tahu, mi, dan bahan lainnya untuk direbus dalam kuah berbumbu. Hidangan ini berasal dari Sichuan, bukan dari Timur Laut China. Namun, malatang kemudian berkembang pesat di wilayah Timur Laut dan mengalami penyesuaian dengan selera setempat hingga muncul gaya yang dikenal sebagai 东北麻辣烫 atau malatang gaya Timur Laut.
Malatang versi Timur Laut umumnya dikenal dengan penggunaan kaldu tulang dan tambahan saus wijen atau saus kacang, sehingga cita rasanya berbeda dari bentuk awal malatang di Sichuan. Bahkan, sejumlah jaringan restoran malatang besar yang dikenal secara nasional berkembang dari Timur Laut.
Karena itu, ketika Jing Boran menghubungkan orang Timur Laut dengan malatang dalam percakapannya bersama Sun Qian, maksudnya bukan bahwa malatang merupakan makanan asli Timur Laut. Ia sedang bercanda mengenai salah satu makanan yang sangat populer di kawasan tersebut sekaligus menjadi topik ringan yang sering mereka bicarakan.
Mengenal Karakter Masing-Masing
Kedekatan di luar kamera tersebut menjadi bekal bagi Jing Boran dan Sun Qian untuk memainkan karakter yang memiliki kepribadian sangat berbeda.
Jing Boran menggambarkan Shang Zhi Tao sebagai perempuan yang terlihat rendah hati tetapi tetap sadar diri, mandiri, dan memiliki ambisi. Menurutnya, karakter tersebut mengalami perkembangan dalam kehidupan pekerjaan dan percintaan setelah bertemu Luan Nian.
“Shang Zhi Tao adalah seorang gadis yang rendah hati tetapi tetap sadar diri, sangat mandiri dan juga sangat ambisius. Setelah bertemu Luan Nian di tempat kerja, dia mengalami pertumbuhan yang sangat lepas dalam hubungan dan pekerjaannya,” ujar Jing Boran.
Sementara itu, Sun Qian menggambarkan Luan Nian sebagai sosok yang pada awalnya sangat tajam dalam berbicara. Namun, dalam proses berinteraksi dengan orang lain, ia perlahan belajar mempertimbangkan perasaan orang lain.
“Dia terlihat seperti orang yang sangat pedas dalam berbicara, tetapi dalam proses berinteraksi dan berubah, dia perlahan menjadi orang yang lebih mempertimbangkan orang lain,” kata Sun Qian.
Jing Boran menilai Luan Nian memang memiliki karakter yang penuh sisi tajam dan selalu mengungkapkan pikirannya secara langsung.
“Luan Nian memang orang yang memiliki banyak sisi tajam. Tapi bagusnya, kalian tidak perlu menebak-nebak orang ini karena cara dia mengungkapkan sesuatu sangat langsung,” jelasnya.
Menurut Jing Boran, justru kekurangan Luan Nian menjadi bagian dari daya tarik karakter tersebut.
“Daya tarik karakter ini justru terletak pada kenyataan bahwa kekurangannya lebih banyak daripada kelebihannya,” ujarnya.
Shang Zhi Tao Jadi “Perisai Terkuat” Luan Nian
Sun Qian kemudian menjelaskan mengapa Shang Zhi Tao mampu menghadapi sifat Luan Nian yang suka melontarkan perkataan tajam.
Menurutnya, Shang Zhi Tao memang akan merasa sakit hati ketika mendapat perkataan kasar, tetapi ia tidak membiarkan dirinya terlalu lama terpuruk.
“Shang Zhi Tao sebenarnya cukup mampu mengatasinya. Kalau menghadapi orang yang suka bicara pedas, biasanya seseorang akan merasa sangat sakit dan terluka. Tapi terhadap Shang Zhi Tao, itu tidak berlaku,” kata Sun Qian.
Ia menggambarkan Shang Zhi Tao sebagai “perisai terkuat” yang mampu menghadapi serangan verbal Luan Nian.
“Setelah dimarahi sepuluh kali, dia pulang dan menderita sebentar, lalu berkata tidak apa-apa. Besok dia kembali menjadi Shang Zhi Tao yang terbaik,” lanjutnya.
Bagi Jing Boran, kemampuan Shang Zhi Tao untuk segera bangkit justru menjadi salah satu hal yang paling mampu menghadapi Luan Nian.
“Ini juga yang paling bisa menaklukkan Luan Nian,” ujar Jing Boran.
Hubungan Penuh Pertengkaran dan Perubahan
Hubungan Luan Nian dan Shang Zhi Tao sendiri tidak berjalan mulus. Mereka sering bertengkar, berdamai, kemudian kembali bertengkar.
“Aku merasa kedua orang ini cukup merepotkan. Mereka tidak bisa baik-baik selama beberapa detik, lalu bertengkar lagi, kemudian berdamai lagi,” kata Jing Boran.
Sun Qian melihat dinamika tersebut dari sisi yang berbeda.
“Rasanya mungkin karena mereka terlalu mencintai satu sama lain,” ujarnya.
Namun, bagi Jing Boran, hubungan mereka lebih dari sekadar pasangan yang terus bertengkar dan berbaikan. Inti kisah mereka justru terletak pada perubahan yang terjadi pada kedua karakter.
“Ini lebih terlihat dari bagaimana mereka berubah satu sama lain dalam perjalanan cinta yang panjang ini,” jelas Jing Boran.
Ia menjelaskan bahwa Shang Zhi Tao pada awalnya mencintai seseorang sampai hampir kehilangan dirinya sendiri. Sementara Luan Nian, yang sebelumnya terbiasa hanya mencintai dirinya sendiri, perlahan belajar melepaskan dirinya demi Shang Zhi Tao.
“Dalam perjalanan panjang hubungan ini, keduanya memberikan pertumbuhan kepada satu sama lain. Menurutku, itulah bagian yang paling ekstrem,” ujar Jing Boran.
Adegan Intim Dibantu Koordinator Adegan Intim
Selain membangun chemistry melalui interaksi sehari-hari, Jing Boran dan Sun Qian juga menghadapi tantangan tersendiri selama proses syuting, terutama ketika harus menjalani adegan intim.
Jing Boran mengungkapkan bahwa tim produksi menyediakan intimacy coordinator (koordinator adegan intim) untuk membantu mereka dalam adegan tersebut. Pendamping tersebut memberikan arahan mengenai estetika sekaligus membantu mengatur bagaimana gerakan dan ekspresi dalam adegan itu dilakukan.
“Pertama, dia akan memberikan arahan mengenai estetika. Kedua, dia akan membimbing kami bagaimana melakukan gerakan dan bagaimana menampilkan estetika tersebut,” kata Jing Boran.
Menurutnya, kehadiran intimacy coordinator juga membuat dirinya dan Sun Qian lebih rileks ketika menjalani adegan tersebut.
“Dengan adanya dia, kami berdua juga bisa lebih rileks,” ujarnya.
Sun Qian membenarkan hal tersebut dan mengatakan pendampingan itu sangat membantu, terutama dalam hal psikologis.
“Benar-benar sangat membantu, terutama secara psikologis,” kata Sun Qian.
Luke Jadi “Pengikat” Hubungan Mereka
Anjing bernama Luke juga menjadi bagian penting dalam hubungan Luan Nian dan Shang Zhi Tao. Beberapa materi di balik layar yang memperlihatkan keduanya bersama Luke bahkan membuat penonton bercanda bahwa pasangan tersebut seolah-olah lebih mencintai anjing itu daripada satu sama lain.
Namun, Jing Boran melihat hubungan tersebut secara lebih emosional.
“Yang mereka cintai adalah rumah yang sudah mereka lewatkan dan kehilangan,” jelasnya.
Menurut Jing Boran, Luke bukan sekadar hewan peliharaan dalam cerita. Anjing tersebut berfungsi sebagai pengikat antara Luan Nian dan Shang Zhi Tao, hampir seperti anak bagi pasangan tersebut.
“Luke adalah perekat yang sangat penting dalam hubungan mereka. Dia seperti anak dari kedua orang ini,” kata Jing Boran.
Karena itu, pertengkaran mengenai Luke sebenarnya bukan sekadar persoalan perebutan hak asuh. Menurut Jing Boran, Luan Nian menggunakan Luke sebagai alasan untuk berusaha mempertahankan hubungan dengan Shang Zhi Tao.
“Lebih tepatnya, Luan Nian sedang berusaha mempertahankan Shang Zhi Tao, tetapi dia hanya bisa menggunakan anak ini, menggunakan anjing ini untuk membicarakannya,” ujarnya.
Selama syuting, Jing Boran dan Sun Qian juga harus membangun kedekatan dengan Luke agar adegan bersama sang anjing terasa natural. Mereka memperbanyak interaksi dan menggunakan camilan untuk mendapatkan kepercayaan Luke.
“Sebagai aktor, dia benar-benar menghidupkan karakter dari karya aslinya. Jadi secara pribadi kami harus lebih banyak berinteraksi dengannya dan membangun rasa saling memahami, seperti sedang membujuk seorang anak kecil,” kata Jing Boran.
Busana Luan Nian Ikut Mengikuti Perubahan Karakter
Pengalaman syuting lainnya berkaitan dengan fashion. Jing Boran ikut memperhatikan detail pakaian Luan Nian untuk menunjukkan perkembangan emosional karakter tersebut.
Pada awal cerita, Luan Nian digambarkan masih tertutup secara emosional sehingga pakaian yang dikenakannya dibuat formal dan kaku.
“Pada awalnya dia sepenuhnya berada dalam kondisi tertutup secara emosional. Dasi dan pakaiannya sangat formal dan ketat,” jelas Jing Boran.
Setelah bertemu Shang Zhi Tao, perubahan tersebut perlahan terlihat dari busananya.
“Kancingnya perlahan mulai terbuka. Itu sebenarnya juga menjadi sinyal bahwa dia tidak lagi mampu menahan dirinya terhadap dunia luar dan lingkungan kerja. Termasuk dari warnanya, setelah bertemu Shang Zhi Tao, pria yang sudah lebih dewasa ini mulai menjadi lebih berwarna,” ujarnya.
Menariknya, selama periode produksi, Jing Boran dan Sun Qian juga sempat menghadiri fashion week pada waktu yang sama. Keduanya bahkan berada di hotel yang sama ketika menghadiri acara tersebut.
Pengalaman itu menjadi kebetulan yang menarik karena dunia fashion memang menjadi bagian dari karakter Luan Nian sekaligus menjadi salah satu elemen yang ikut membentuk penampilannya.
Pada akhirnya, chemistry Jing Boran dan Sun Qian dalam The Early Spring tidak hanya dibangun melalui adegan romantis di depan kamera. Mereka terlebih dahulu menemukan kenyamanan lewat interaksi pribadi, berbicara menggunakan dialek Timur Laut, bercanda soal malatang, dan saling mengenal karakter masing-masing.
Sementara ketika kamera mulai merekam, kedekatan tersebut harus mereka ubah menjadi hubungan Luan Nian dan Shang Zhi Tao yang penuh pertengkaran, rekonsiliasi, dan perubahan—sebuah hubungan yang menurut Jing Boran pada akhirnya membuat kedua karakter tersebut tumbuh bersama.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.


