Sinopsis The Immortal Ascension
The Immortal Ascension merupakan drama xianxia yang diadaptasi dari novel karya Wang Yu. Drama ini mengikuti perjalanan Han Li (Yang Yang), seorang pemuda miskin dari desa yang memiliki bakat kultivasi biasa-biasa saja. Secara kebetulan, dia memasuki sebuah sekte kultivasi dan mulai menapaki jalan menuju kekekalan. Dengan mengandalkan kecerdikan, kehati-hatian, dan kegigihannya, Han Li terus berusaha melampaui keterbatasan diri sambil menghadapi berbagai ujian dan bahaya di dunia kultivasi.
Review The Immortal Ascension
The Immortal Ascension merupakan drama xianxia yang menarik dan berbeda dari drama lain dalam genre yang sama. Drama ini menonjolkan adegan aksi dan penggunaan efek spesial yang kuat dan realistis.
Dukung Layar Hijau
Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.
Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.
Untuk pengguna di Indonesia
Untuk pengguna internasional
Informasi lebih lanjut, klik di sini.
Bila drama xianxia umumnya lebih menonjolkan adegan aksi yang estetis dan mengalir dengan penekanan pada kekuatan spiritual para karakternya, The Immortal Ascension terlihat menggabungkan koreografi pertarungan wuxia dengan pertarungan khas xianxia. Adegan terbang dalam sejumlah drama xianxia terkadang digarap secara sederhana. Namun, The Immortal Ascension mengambil pendekatan berbeda dengan menampilkan adegan terbang yang terasa realistis, mengingatkan kita pada adegan aksi dalam film-film DC dan Marvel.

The Immortal Ascension
Pertarungan Memukau, Cerita yang Tak Selalu Meyakinkan
The Immortal Ascension menawarkan pengalaman menonton xianxia yang berbeda lewat adegan aksi spektakuler, efek spesial yang meyakinkan, dan karakter Han Li yang kompleks serta realistis. Perjalanan Han Li juga menghadirkan refleksi tentang kemanusiaan, kepercayaan, dan ketimpangan dalam dunia kultivasi. Namun, ketidakseimbangan konflik antarsekte, karakter kuat yang kurang dimanfaatkan, serta unsur romansa yang canggung membuat cerita ini belum sepenuhnya memuaskan.
Kekuatan
- Adegan aksi spektakuler dengan koreografi pertarungan yang realistis.
- Efek spesial yang meyakinkan, terutama dalam adegan terbang dan penampilan monster.
- Karakter Han Li yang kompleks dengan perkembangan karakter dan refleksi tentang kemanusiaan.
Kelemahan
- Konflik antarsekte dengan keseimbangan kekuatan yang kurang meyakinkan.
- Karakter kuat seperti Nangong Wan dan para guru Han Li kurang dimanfaatkan.
- Unsur romansa yang terasa canggung dan kurang menyatu dengan cerita.
Pendekatan tersebut membuat adegan pertarungan dalam drama ini cukup memuaskan untuk ditonton. Beberapa monster yang dibuat menggunakan efek spesial juga terlihat meyakinkan dan hidup, meskipun ada satu atau dua yang tampak kurang bagus.
Efek spesial dan adegan aksi bukan sekadar dua hal yang membuat drama ini menonjol. Meskipun mengisahkan perjalanan karakter utama Han Li menuju kekekalan, drama ini tidak terjebak dalam klise yang umum ditemukan dalam cerita sejenis. Cerita tidak hanya didominasi oleh usaha Han Li meningkatkan kekuatannya melalui berbagai artefak dan ramuan spiritual. Kita juga melihat pertumbuhan karakter Han Li dan diajak memahami berbagai sisi kemanusiaan.
Pertumbuhan Han Li dari seorang remaja yang berasal dari keluarga miskin hingga menjadi salah satu murid sekte yang dapat diandalkan oleh rekan-rekannya diperlihatkan secara alami. Sebagai karakter utama, dia digambarkan sebagai sosok yang tidak idealis, cerdik, dan realistis. Menariknya, meskipun sejak remaja Han Li telah mengalami sendiri kelicikan hati manusia, dia tetap mempertahankan sisi kemanusiaannya.
Pengalamannya menghadapi pengkhianatan dari guru yang dihormatinya semasa remaja membuat Han Li menjadi sosok yang tidak mudah mempercayai orang lain. Dia memilih menjaga jarak dari orang-orang yang tidak dipercayainya, tetapi menyembunyikan kecurigaan tersebut di balik sikap ramah dan tutur kata yang manis. Sikap ini memperlihatkan bagaimana pengalaman buruk membentuk cara Han Li berinteraksi dengan orang lain. Dia belajar untuk berhati-hati tanpa harus selalu menunjukkan kecurigaannya secara terbuka.
Han Li juga menyadari kelemahan dan ketimpangan dalam tatanan sosial dunia kultivasi. Namun, dia memahami bahwa dengan kemampuan yang dimilikinya, dia tidak mungkin mengubah seluruh sistem tersebut. Karena itu, dia berusaha menemukan cara untuk bertahan hidup di tengah sistem yang cacat. Pendekatan ini membuat Han Li berbeda dari karakter utama yang selalu berusaha memperjuangkan idealisme atau mengubah dunia di sekitarnya. Han Li lebih memilih memahami keadaan, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan peluang yang tersedia baginya.
Hal-hal tersebut membuat karakter Han Li terasa kompleks dan hidup, sehingga penonton dapat memahami alasan di balik tindakan-tindakannya, meskipun tidak selalu harus menyetujuinya. Yang Yang mampu memerankan karakter tersebut dengan cukup baik.
Lewat kehadiran para karakter pendukung lainnya, kita diajak melihat sistem dan nilai yang dianut oleh kaum kekal, yang ternyata memiliki banyak kelemahan. Kelompok yang mengaku sebagai perwakilan kebaikan dan kelompok iblis yang dicap jahat digambarkan sebagai dua kelompok yang sebenarnya tidak jauh berbeda. Hierarki dalam kedua kelompok tersebut ditentukan oleh bakat dan kekuatan. Dengan demikian, perbedaan antara kedua kelompok tidak selalu terletak pada nilai moral yang mereka anut, tetapi juga pada kepentingan dan kedudukan yang ingin mereka pertahankan.
Ketimpangan Konflik dalam The Immortal Ascension Season 1
Di sinilah kelemahan season pertama mulai terlihat. Kelompok iblis yang terdiri dari enam sekte digambarkan memiliki jumlah pasukan dan ahli yang lebih banyak dibandingkan kelompok kaum kekal yang terdiri dari tujuh sekte. Seiring perkembangan cerita, terungkap bahwa para elite kaum kekal telah membuat perjanjian damai dengan kelompok iblis. Dalam perjanjian tersebut, para elite ini tidak diizinkan ikut campur dalam peperangan. Tidak hanya itu, tujuh sekte kaum kekal ternyata juga telah disusupi mata-mata atau anggota yang membelot.
Ketika cerita memasuki fase konflik, kita justru lebih sering melihat kekalahan kelompok Han Li. Hal ini dapat membuat penonton merasa frustrasi, terutama ketika karakter utama kehilangan rekan-rekannya dalam perjuangan melawan kelompok iblis. Kemenangan yang sempat dirasakan pun ternyata hanya merupakan kemenangan semu hasil rekayasa.
Han Li dan para seniornya sempat meraih kemenangan dengan harga yang mahal: dua senior dan dua rekan Han Li lainnya gugur dalam pertarungan. Namun, tidak ada penjelasan yang cukup jelas mengenai apakah sekte yang mereka lawan berkaitan dengan enam sekte kelompok iblis. Ketidakjelasan ini menyulitkan penonton untuk memahami posisi pertarungan tersebut dalam konflik yang lebih besar.
Situasi ini terasa janggal karena tujuh sekte kaum kekal juga memiliki banyak anggota dengan kemampuan mumpuni. Namun, kita tidak melihat banyak kemenangan nyata yang dapat mengubah keadaan bagi kelompok Han Li. Sementara itu, meskipun hanya beberapa karakter penting dari sekte iblis yang diperlihatkan, mereka mampu memberikan pukulan telak kepada lawan-lawannya.
Kekalahan berulang sebenarnya dapat menjadi cara yang efektif untuk membangun ketegangan dan memperlihatkan besarnya ancaman yang dihadapi karakter utama. Namun, hal tersebut perlu diimbangi dengan penggambaran yang meyakinkan mengenai kemampuan kedua belah pihak. Akan lebih masuk akal jika hasil pertarungan memperlihatkan keseimbangan yang lebih jelas sesuai dengan peta kekuatan yang dibangun oleh cerita, atau jika terdapat penjelasan yang memadai mengenai alasan kelompok yang lebih kuat tidak mampu meraih kemenangan.
Karena itu, karakter dengan kemampuan mumpuni seperti Nangong Wan dan para guru Han Li terkesan tidak dimanfaatkan secara optimal. Peta kekuatan yang diperlihatkan melalui penjelasan tentang jumlah sekte, pasukan, dan ahli tidak sepenuhnya tercermin dalam hasil pertarungan. Hal ini membuat sebagian konflik terasa kurang meyakinkan, meskipun latar belakang politik dan pengkhianatan di dalam cerita sebenarnya memberikan alasan bagi kelompok kaum kekal untuk berada dalam posisi yang sulit.
Romansa yang Terasa Canggung
Hal lain yang patut disoroti adalah unsur asmara dalam drama ini. Han Li digambarkan sebagai pemuda dengan akar spiritual “palsu”, istilah yang merujuk pada akar spiritual dengan empat hingga lima elemen yang dianggap kurang menguntungkan dalam sistem kultivasi cerita. Orang dengan akar spiritual seperti ini dikatakan tidak berbakat dan sulit mencapai tingkat kultivasi yang tinggi.
Selain itu, Han Li berkali-kali digambarkan oleh karakter lain sebagai pemuda dengan penampilan yang sangat biasa. Tentu saja, gambaran fisik tersebut terasa kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan sosok Yang Yang yang memerankannya. Namun, pemuda yang digambarkan berpenampilan biasa dan memiliki kemampuan spiritual yang lemah ini justru menarik perhatian empat perempuan sekaligus. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai dari Nangong Wan, seorang grandmaster dari salah satu sekte ternama, hingga Mo Cai Huan, yang merupakan manusia biasa.
Situasi tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian menarik dari perjalanan karakter Han Li. Kedudukan dan kemampuan seseorang dalam dunia kultivasi tidak selalu menentukan hubungan personal yang mereka bangun. Namun, agar unsur romansa terasa meyakinkan, ketertarikan para karakter perempuan terhadap Han Li perlu dikembangkan melalui interaksi dan hubungan yang dapat dipahami penonton.
Sayangnya, unsur romansa dalam drama ini justru menjadi salah satu kelemahannya karena terasa aneh dan canggung. Han Li beberapa kali terjebak dalam situasi ketika dia justru menjadi korban pendekatan agresif dari para perempuan yang tertarik kepadanya. Dialog dan interaksi Han Li dengan para perempuan tersebut juga terasa canggung dalam konteks cerita secara keseluruhan. Alih-alih memperkuat hubungan antarkarakter, sejumlah interaksi romantis justru terasa kurang menyatu dengan kepribadian Han Li dan konflik yang sedang berlangsung.
Namun, di sisi lain, kelemahan ini mungkin merupakan hal yang tidak sepenuhnya dapat dihindari. Kehadiran unsur asmara membuat cerita terasa lebih manusiawi karena manusia, termasuk mereka yang berlatih untuk mencapai kekekalan, tidak mungkin terlepas dari hubungan asmara, pertemanan, kekeluargaan, dan permusuhan. Persoalannya bukan terletak pada keberadaan romansa itu sendiri, melainkan pada bagaimana hubungan tersebut dikembangkan dan diintegrasikan ke dalam cerita.
Secara garis besar, The Immortal Ascension menjadi salah satu drama xianxia yang unik dan berbeda. Meskipun dalam beberapa hal ceritanya membuat saya merasa frustrasi, aneh, dan canggung, secara umum drama ini memanjakan penonton dengan pertarungan yang didukung efek spesial kuat dan realistis. Selain itu, perjalanan Han Li dan para karakter di dalamnya menawarkan refleksi tentang kemanusiaan, kepercayaan, ketimpangan, dan cara seseorang bertahan hidup dalam sistem yang tidak selalu adil.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

