Posted in

Review Where The Mask Ends: Drama Romansa dengan Format yang Menegangkan dan Bikin Penasaran

Bagikan

Sinopsis:

A Chou awalnya seorang pengumpul kotoran di malam hari, diinjak dan dirundung oleh semua orang. Karena kemiripan yang luar biasa dengan Wei Rao, putri dari keluarga bangsawan, dia dipaksa menjadi pengantin pengganti. Dia dinikahkan dengan Lu Zhuo, dari keluarga bangsawan Lu yang terpandang untuk menolak bala. Lu Zhuo, pewaris keluarga Lu terluka parah dan dalam kondisi koma.

Tapi situasi berubah menjadi rumit saat suaminya yang awalnya kritis tiba-tiba sadar. Dia percaya jika A Chou adalah wanita beracun yang sangat licik. Hal ini membuat Lu Zhuo curiga dan terus bersikap waspada di sekitarnya. Di sisi lain, Wei Rao merasa murka mengetahui orang miskin mengambil tempatnya dan mulai merancang cara untuk mengambil kembali identitas dan pernikahannya.

Dukung Layar Hijau

Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.

Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.


Untuk pengguna di Indonesia

Untuk pengguna internasional

Informasi lebih lanjut, klik di sini.

Terjebak dalam situasi di mana satu langkah yang salah bisa berujung pada eksekusi, A Chou tidak bisa memikirkan nikmatnya cinta dalam pernikahannya. Hanya mengandalkan kecerdikan dan semangat kuat untuk bertahan hidup, dia harus bertahan di tengah jebakan mematikan di lingkungan para bangsawan dan intrik politik.

Review:

Where The Mask Ends

Where The Mask Ends

4.6 ★★★★★ Bagus

Romansa dengan Sentuhan Thriller yang Bikin Penasaran

Where The Mask Ends menghadirkan romansa dengan format penceritaan ala thriller, misteri identitas, dan kejutan berlapis yang membuat penonton penasaran. Tian Xiwei tampil solid memerankan dua karakter berbeda, didukung soundtrack dan tata artistik yang kuat. Sayangnya, karakter antagonis kurang cerdas, dinamika romansa melemah di paruh kedua, dan akting Yan An belum maksimal. Meski begitu, drama ini tetap menarik berkat perpaduan ketegangan, intrik, dan komedi romantis.

Cerita
★★★★★4.6/5
Akting
★★★★★4.5/5
Soundtrack
★★★★★4.8/5

Kekuatan

  • Format thriller yang bikin penasaran.
  • Akting Tian Xiwei yang solid.
  • Soundtrack dan tata artistik yang kuat.

Kelemahan

  • Karakter antagonis kurang cerdas.
  • Dinamika romansa melemah di paruh kedua.
  • Akting Yan An belum maksimal.

Elemen anak yang ditukar, pertarungan antara karakter asli dan palsu yang mirip atau kembar sebenarnya bukanlah elemen yang baru dalam drama dan film. Tapi elemen ini mampu diolah menjadi sesuatu yang menarik dalam drama Where The Mask Ends. Dari sinopsis resmi yang beredar, para penonton sudah memiliki gambaran kalau A Chou (diperankan Tian Xiwei) sebenarnya adalah Wei Rao yang asli, sementara sosok yang selama ini diterima masyarakat sebagai Wei Rao ternyata adalah putri yang palsu. Belakangan Wei Rao yang palsu ini dikenal dengan nama Jun Dai. Tapi saya penasaran kenapa dia ditukar dan siapa pelakunya?

Drama ini mampu mengoptimalkan unsur misteri terkait asal usul A Chou dan Jun Dai. Selain itu, yang unik adalah sekalipun memiliki genre romansa, Where The Mask Ends memakai format yang umumnya dipakai drama thriller di China. Kalau kalian pernah menonton drama seperti The Lotus Casebook dan Coroner’s Diary, kalian mungkin paham yang saya maksud. Setiap episode ditata sedemikian rupa hingga akhir episode selalu dipotong di bagian adegan yang membuat penonton merasa tegang, penasaran. Tanpa disadari, kita akan kecanduan mengklik episode selanjutnya untuk tahu kelanjutan cerita.

Kemampuan akting Tian Xiwei ditantang dalam drama ini saat dia memerankan A Chou dan Jun Dai. Dalam beberapa segi, akting Tian Xiwei terlihat solid. Dia mampu menjiwai masing-masing karakter dengan tatapan mata, ekspresi wajah dan gerak-gerik berbeda. Sayangnya akting yang solid ini terbentur dengan desain karakter yang kurang maksimal. Desain karakter Jun Dai kurang menarik. Di satu sisi, Jun Dai adalah sosok remaja putri yang jahat dan bengis. Tapi dia juga impulsif dan bodoh sehingga begitu orang memahami sifat jeleknya, Jun Dai tidak bisa memberikan perlawanan dan kejutan yang berarti.

Yan An memerankan Lu Zhuo, karakter utama pria dalam drama. Dia masih belum mampu memberikan akting yang solid. Hal ini patut dimaklumi karena Where The Mask Ends adalah drama pertama di mana Yan An menjadi pemeran utama. Aktingnya mirip dengan beberapa karakter yang sebelumnya dia perankan dalam drama lain seperti Fangs of Fortune dan Veil of Shadows. Tapi akting pria ini tidak bisa dicap buruk, dan masih ada ruang baginya untuk mengasah dan membuktikan diri.

Para pemeran pendukung juga mampu memberikan akting yang memadai untuk menolong dua pemeran utama kita dalam menghidupkan cerita. Paling tidak ada beberapa pemeran pendukung yang menarik perhatian seperti Nikita Mao (memerankan Zhou Fu, ibu Wei Rao), Liu Xiao Bei (memerankan Qi Zhong Kai, sahabat Lu Zhuo), Pan Jun Ya (memerankan Bi Tao, pelayan Wei Rao) dan Jin Tian Ru Yi (memerankan Hong Xian, adik A Chou).

Dari segi cerita, ada beberapa lapis kejutan yang patut dipuji. Saat pertama kali diperkenalkan, sosok A Chou adalah gadis yang berprofesi sebagai pengangkut kotoran yang dibesarkan keluarga miskin. Awalnya saya mengira akan melihat sosok yang bergelut dengan rasa takut, was-was dan berusaha lari dari cengkeraman Jun Dai dan bibinya saat dia dipaksa menjadi pengganti Jun Dai untuk menikahi Lu Zhuo. Kejutan pertama adalah A Chou rupanya tidak kalah garang dari Jun Dai. Dia juga ambisius, begitu memperoleh kesempatan untuk keluar dari lubang kemiskinan, dia menggenggam erat kesempatan itu dan dengan sumber daya seadanya melakukan perlawanan sengit.

A Chou tidak memperlihatkan kelemahan yang umum dimiliki orang-orang yang termarginalkan. Awalnya saya menduga bahwa hal ini tidak masuk akal. Tapi seiring berjalannya cerita, muncul kejutan kedua berupa latar belakang A Chou. Contohnya adalah A Chou tidak punya uang dan waktu untuk mengenyam pendidikan formal. Tapi dia ternyata memiliki para guru dari lingkungan kumuh yang mengajarinya berbagai hal. Sejak kecil, A Chou belajar memahami sifat dasar manusia. Hal ini membuat A Chou tumbuh sebagai gadis remaja yang tidak naif.

Sayangnya para karakter antagonis dalam drama ini tidak memiliki kemampuan berarti untuk melawan A Chou. Hal ini patut disesalkan. Jun Dai lebih digambarkan sebagai sosok anak manja yang hanya bisa mengamuk dan berteriak-teriak. Strateginya untuk menyingkirkan A Chou justru kerap menjadi bumerang.

Karakter antagonis lain seperti Ibu Suri dan Permaisuri juga tidak lebih pintar dari Jun Dai, sekalipun mereka lebih berkuasa dibandingkan seorang remaja putri.

Konflik antara ibu kandung dan anak kandung karena kesalahpahaman yang diperlihatkan oleh karakter Zhou Fu dan A Chou cukup mampu memberikan ketegangan, menambal kelemahan dari perlawanan lemah para antagonis.

Sebenarnya Where The Mask Ends bisa belajar dari drama atau serial lain yang sebelumnya memakai elemen karakter kembar. Cerita yang menegangkan tidak harus berasal dari beberapa ledakan konflik. Contohnya, dalam serial seperti The Vampire Diaries, karakter utama wanita Elena Gilbert ternyata sangat mirip dengan leluhurnya, vampir Katherine Pierce.

Awalnya para karakter dalam cerita tidak tahu kalau Katherine adalah leluhur Elena. Serial itu dengan cerdik mengoptimalkan elemen karakter kembar. Katherine berkali-kali menyamar menjadi Elena tanpa ada yang curiga dan membuat situasi menjadi porak-poranda, meski akhirnya Stefan dan Damon Salvatore bisa mengenali perbedaan di antara karakter kembar ini.

Elemen seperti ini bisa dimanfaatkan dalam cerita Where The Mask Ends. Cerita akan lebih baik dan akting Tian Xiwei bisa dimaksimalkan kalau penulis naskah membuat karakter Jun Dai sedikit lebih pintar. Jadi dia tidak hanya bisa mengecoh nenek dan bibinya supaya memanjakan dirinya tapi juga bisa memberikan perlawanan yang nyata pada A Chou. Dengan demikian, memerankan tokoh jahat tidak harus membuat Tian Xiwei memelototkan mata dan berteriak-teriak seperti saat dia memerankan Jun Dai.

Misalnya, bagaimana jika Jun Dai berhasil masuk ke keluarga Lu dan menggantikan posisi A Chou sebagai istri Lu Zhuo? Apakah Lu Zhuo dan orang-orang di sekitarnya bisa membedakan siapa Jun Dai dan A Chou? Atau bagaimana jika Jun Dai memakai identitas A Chou untuk melakukan kejahatan dan menyalahkan A Chou sebagai pelakunya?

Kelemahan cerita lain yang perlu disoroti adalah begitu identitas A Chou dan Jun Dai terungkap, Jun Dai meninggal (sekali lagi karena kebodohannya sendiri), dan A Chou kembali memakai identitas Wei Rao secara sah, daya tarik cerita drama mulai melemah.

Kualitas dan daya tarik cerita pasca kematian Jun Dai tidak merata. Saya terus menonton karena ingin melihat kelanjutan cerita cinta Lu Zhuo dan Wei Rao.

Sikap A Chou yang berbeda dari sosok Wei Rao palsu (Jun Dai) yang selama ini dikenal masyarakat awalnya membuat Lu Zhuo curiga. Tapi lama-kelamaan dia jatuh hati dengan sikap ambisius, independen dan cerdik yang dimiliki gadis ini.

Ada beberapa modifikasi cerita cinta keduanya yang lucu. Misal di paruh awal saat Jun Dai masih hidup dan A Chou berusaha semaksimal mungkin untuk merebut perhatian suaminya, interaksi A Chou dan Lu Zhuo menimbulkan dinamika yang menarik. Ada tarik ulur, rayuan dan penolakan. A Chou yang biasanya bersikap dingin, berubah menjadi perayu yang mampu memanfaatkan sensualitasnya. Akting Tian Xiwei mampu menghidupkan kontras ini. Hal ini membuat Lu Zhuo sebagai sosok yang lurus dan konvensional kelabakan sehingga menimbulkan kelucuan demi kelucuan. Dinamika seperti ini menjadi salah satu keunggulan dalam cerita.

Sayangnya di paruh kedua, dinamika ini tidak lagi menonjol. Begitu Jun Dai meninggal, dan A Chou secara sah memakai identitas sebagai Wei Rao asli, dinamikanya berubah. Wei Rao sekarang tidak perlu menggantungkan hidupnya pada penerimaan pria itu. Jadi dia menceraikan Lu Zhuo. Perubahan posisi ini, ditambah keterbatasan akting Yan An dalam menghidupkan karakter Lu Zhuo, membuat kisah asmara dalam drama ini terasa kurang kuat.

Selama ini, karakter yang diperankan Yan An cenderung berupa karakter antagonis atau karakter dengan pembawaan kasar. Ekspresi wajah yang dia tunjukkan biasanya adalah ekspresi marah dan diam dengan dialog yang pendek dan tegas. Dia terlihat kesulitan untuk memperlihatkan ekspresi mikro yang berbeda dari karakter yang mulai terobsesi dan mabuk cinta.

Apakah ceritanya akan sama dengan versi novel? Ternyata dalam versi novel, dinamika tarik ulur di antara kedua karakter ini konsisten dari awal hingga akhir. Saat keduanya akhirnya bersama di novel, interaksi keduanya bukannya melemah tapi menguat. Sementara di drama, cerita lebih mengandalkan kelucuan dalam usaha Lu Zhuo mengejar cinta Wei Rao dengan sesekali memanfaatkan ketegangan seksual di antara dua karakter ini.

Seandainya Yan An sudah memiliki kemampuan akting yang cukup memadai saat dia memerankan Lu Zhuo, dia mungkin bisa memperlihatkan sosok pria yang dimabuk cinta dengan lebih kaya dan meyakinkan. Sekalipun dengan kelemahan ini, penulis naskah masih mampu memberikan sesuatu yang menarik dengan cerita-cerita lucu dalam upaya Lu Zhuo mengejar cinta Wei Rao. Bila kisah asmara yang lucu dan indah antara Lu Zhuo dan Wei Rao ini diberi porsi yang lebih banyak dan diperkuat, maka drama ini akan masuk ke level yang lebih tinggi.

Tapi drama ini lebih memilih menonjolkan konflik dan intrik kekuasaan. Beberapa konflik antara kubu ibu suri dan kubu Wei Rao memang terasa cukup menegangkan. Munculnya Wei Shu (diperankan oleh Estelle Chen), sepupu Wei Rao yang lain, awalnya saya anggap sebagai pengganti ideal Jun Dai. Bayangan saya, lawan Wei Rao yang sepadan adalah sosok seperti Wei Shu yang terlihat baik di luar tapi jahat dan menjijikkan di dalam. Sayangnya seiring jalannya cerita, Wei Shu juga tidak memberikan perlawanan berarti.

Sementara karakter antagonis pria dalam drama ini mengecewakan mulai dari Han Liao dan Pangeran Duan. Sikap dan aksi mereka lebih mirip orang jahat yang ingin mempermalukan diri dengan upaya perlawanan yang lemah. Kehadiran keduanya masih tertolong dengan tampilan fisik mereka yang menarik.

Di sisi lain karakter antagonis yang kurang cerdas bisa memberikan hiburan tersendiri. Saat Wei Rao membalik serangan para karakter antagonis ini dan membuat mereka menderita, rasanya memuaskan.

Selain akting dan cerita, hal lain yang patut disoroti dalam drama ini adalah soundtrack. Lagu pembuka dan penutup dalam drama ini menimbulkan kesan yang kuat. Lagu pembuka Entering the Game under Another Name mampu menunjukkan esensi dari cerita drama. Lagu ini dibawakan dengan apik oleh Liu Yuning. Sementara penutupnya, Inch by Inch yang dibawakan Tia Ray menggambarkan tarik ulur dan kondisi batin dari Wei Rao dan Lu Zhuo.

Kostum, tata rias, setting tempat dalam drama juga patut memperoleh apresiasi karena memperlihatkan keseriusan tim drama membangun dunia cerita yang meyakinkan. Perbedaan antara kelas bawah dan atas mulai dari pakaian, tempat tinggal dan riasan terasa otentik. Keputusan penulis naskah memakai format ala misteri dengan setiap episode diakhiri dengan adegan yang membuat rasa penasaran juga merupakan sebuah keputusan menyegarkan.

Beberapa kelemahan di atas memang membuat cerita terasa kurang memuaskan. Tapi secara umum, Where The Mask Ends berhasil membuat saya merasa penasaran dengan ceritanya. Kalau kalian ingin menonton drama romansa yang berbeda, yang mampu membuat kalian merasa tegang, penasaran tapi kadang tertawa, drama ini bisa menjadi salah satu tontonan yang menarik.

Kaca Pembesar HP

Kaca Pembesar HP
★★★★ 4 Stars

Produk inovatif.

Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.

Kualitas hingga HD, harga murah meriah.

Cek Harga →

Holder Jepit HP

Holder Jepit HP
★★★★½ 4.5 Stars

Aksesoris tonton drama.

Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.

Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.

Cek Harga →

Proyektor HP

Proyektor HP
★★★★½ 4.5 Stars

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.

Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

Cek Harga →

Bagikan

Tim suka menulis berbagai hal, dan menonton film, serial TV, drama atau sekedar menonton video lainnya di YouTube. Pada waktu senggang, Tim suka belajar membuat ramen.

Your email address will not be published. Required fields are marked *