in ,

Apakah Film The Yin-Yang Master: Dream of Eternity adalah Film BL?

Dukung kemajuan Layar Hijau dengan memberikan donasi di sini. Informasi lebih lanjut, bisa dibaca di sini.

Galeri Video

Penjelasan artikel di bawah mengandung spoiler.

Film The Yin-Yang Master: Dream of Eternity saat ini tayang di Netflix. Film ini menonjolkan aksi dengan tingkat fantasi dan estetika yang tinggi. Tapi, sayangnya juga menarik para penggemar yaoi (Boys Love/BL) untuk menontonnya. Hal ini karena hubungan antara kedua pemeran utamanya yang diperankan oleh Mark Chao dan Deng Lun. Apakah film ini memang dimaksudkan sebagai film BL atau merupakan contoh dari queerbait?

Queerbait adalah salah satu alat marketing yang digunakan untuk menarik perhatian penonton yang tertarik melihat hubungan LGBTQ pada media atau menarik mereka supaya tetap menikmati media itu. Contohnya adalah menggambarkan hubungan sesama jenis secara samar-samar, tapi akhirnya hubungan itu tidak pernah benar-benar terjadi. Itulah bagian dari bait atau umpan.

Jalan cerita film

Tanpa ingin memberikan terlalu banyak spoiler, plot film ini adalah tentang iblis ular raksasa yang kekuatannya berasal dari keinginan gelap manusia. Dia dikurung dalam penjara yang dibuat oleh empat master. Penjara itu adalah tubuh dari Kaisar Wanita di Ibukota Kerajaan. Ular itu dikatakan berusaha melarikan diri dari penjaranya, maka empat master sekali lagi berkumpul di kota untuk melawan ancaman itu. Sebagian besar empat master yang original sudah meninggal. Maka murid utama mereka dipanggil untuk menggantikan. Keempatnya adalah Hongruo, Longye, Bo Ya (Deng Lun) dan Qing Ming (Mark Chao).

Master Qing Ming adalah master Yin-Yang yang bersimpati dengan iblis. Sikap ini membuatnya berseteru dengan Bo Ya, master yang membenci iblis dan memiliki kepribadian keras. Perseteruan ini membuat keduanya memiliki hubungan yang merupakan perpaduan antara musuh dan teman. Hal ini juga disimbolkan dengan pakaian yang mereka kenakan. Qing Ming kerap memakai baju putih. Sedangkan Bo Ya memakai baju hitam. Hal ini memperkuat kesan seolah mereka diciptakan untuk saling melengkapi.

Dalam atmosfer di mana rasa tidak percaya dan paranoid menguat, keduanya menyadari jika tujuan mereka bersama lebih besar dari konflik yang mereka miliki. Semakin tinggi taruhan yang mereka ambil, semakin kuat dinamika hubungan mereka. Menjelang akhir film, keduanya bahkan rela saling mengorbankan nyawa satu sama lain. Dinamika hubungan ini menimbulkan kesan jika keduanya bukan hanya sekedar teman biasa.

Kesan ini menguat saat Qing Ming mengingat pesan gurunya, jika supaya dia bisa mengakses kekuatannya sepenuhnya, dia harus fokus untuk melindungi hal-hal yang dia benar-benar pedulikan. Dulu, orang yang benar-benar dia pedulikan adalah ibunya. Sekarang, dengan kehidupan Bo Ya terancam, pesan sang guru membuatnya sadar jika dia ingin melindungi dan rela mengorbankan nyawa untuk rekannya itu.

Di satu sisi, ini adalah hal yang akan dilakukan oleh sahabat dekat yaitu kerelaan mengorbankan nyawa demi yang lain. Tapi di sisi lain, Qing Ming dan Bo Ya pada dasarnya orang asing. Jika mereka memiliki hubungan, saat itu keduanya hanyalah rekan kerja, sesama master Yin Yang.

Adegan penutup dalam film itu juga memperkuat kesan jika film ini mengandung unsur BL. Saat Qing Ming berlayar dengan perahu, dia bersumpah jika suatu saat nanti keduanya akan bertemu  lagi. Saat perahu itu berlayar menjauh, Bo Ya memainkan seruling untuk mengingatkan Qing Ming akan pertemuan pertama mereka. Dia lalu menembakkan panah ajaibnya untuk menerangi jalan Qing Ming menuju rumah. Satu-satunya yang tidak dilakukan kedua karakter ini hanyalah mengungkapkan cinta dengan terus terang. Para pecinta BL mungkin merasa kecewa dengan hal ini. Karena akhir film membuat sifat hubungan di antara dua karakter ini sulit untuk didefinisikan.

Konten BL semakin populer

Hal ini menimbulkan tuduhan jika film ini adalah salah satu film mainstream yang melakukan queerbaiting. Sutradara film ini, Guo Jingming tidak pernah mengiklankan atau mempromosikan The Yin-Yang Master: Dream of Eternity sebagai film BL. Tapi film ini jelas membuat para penonton memiliki penafsiran yang beragam terkait hubungan Qing Ming dan Bo Ya.

The Yin-Yang Master sendiri adalah film yang diadaptasi dari Onmyoji. Novel itu diadaptasi ke dalam manga dan genre untuk manganya adalah shojo (manga untuk gadis muda) dan seinen (manga untuk anak lelaki dan pria). Tapi bukanlah yaoi (BL) atau damei dalam istilah China.

Sedangkan pemerintah China sendiri hingga saat ini menentang pernikahan sesama jenis. Tapi mereka tidak sepenuhnya menyensor konten LGBTG dari kreator dan konsumen. Tapi sensor untuk tema ini pada film besar, entah film dalam negeri atau Hollywood, tetap berlaku secara efektif. Hal yang sama juga berlaku untuk serial drama baik yang tayang online maupun di TV.

Padahal genre danmei dianggap mampu mendongkrak animasi China ke panggung global sehingga mampu bersaing dengan anime Jepang. Serial TV dengan tema BL sendiri sangat populer di China dan secara global. Umumnya untuk menarik penonton wanita.

Mungkin fakta-fakta inilah yang ingin dimanfaatkan oleh film ini. Mereka ingin film ini mampu bersaing di ranah global, menarik lebih banyak penonton. Tapi tetap lolos sensor pemerintah China.

Sudahkah kalian melihat film ini? Bagaimana pendapat kalian soal hubungan keduanya?

Sumber: CBR.com

Tidak ingin ketinggalan informasi terbaru tentang drama, anime, game dan film favorit kalian? Ikuti Layar Hijau di Facebook, Twitter, Instagram dan YouTube. Dukung kami dengan memberi donasi.

Katakan tidak pada plagiarisme. Ingin mengutip isi artikel ini sebagai sumber atau bahan video atau artikel? Jadilah sosok manusia yang bertanggung jawab dengan mencantumkan Layar Hijau sebagai sumber. Lebih baik lagi jika kalian memberikan link aktif ke Layar Hijau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Joseon Exorcist Batal Tayang, Drama Baru Jisoo Blackpink Terancam

Alasan Harus Nonton Drama Korea Mouse