LayarHijau.com – Raksasa penerbit Jepang Kadokawa mengungkap ambisinya untuk meningkatkan nilai produksi anime ke tingkat internasional. Dalam wawancara terbaru bersama Otaku Soken, Chief Studio Officer Kadokawa, Go Kikuchi, dan produser Junichiro Tamura menjelaskan bahwa mereka kini menargetkan pasar global demi menghasilkan pendapatan yang cukup besar—hingga sanggup membuat para animatornya “mampu membeli mobil Benz”.
Menurut Kikuchi, perbedaan besar dalam biaya produksi antara anime Jepang dan animasi buatan Disney berasal dari lingkup pasar yang dituju. “Mengapa biaya unit produksi Disney dan Jepang bisa sejauh itu bedanya? Itu karena target pasar Disney adalah seluruh dunia,” ujar Kikuchi.
Ia menegaskan bahwa jika anime terus diproduksi hanya berdasarkan standar Jepang, maka anggaran produksinya akan tetap terbatas. “Kalau kita ingin menjual secara global, maka konten Jepang juga perlu berubah,” jelasnya. Karena itulah, Kadokawa membentuk cabang-cabang luar negeri yang bertugas melakukan distribusi dan lokalisasi untuk memperluas jangkauan pasar.
Kikuchi menyoroti drama Korea sebagai contoh sukses produksi dengan anggaran tinggi yang dinikmati secara global. Ia yakin anime bisa mencapai hasil serupa asalkan ada komitmen untuk meningkatkan nilai produksi.
Namun, peningkatan anggaran itu tak hanya demi kemegahan teknis semata. Kikuchi menegaskan pentingnya pendistribusian dana yang lebih adil di antara para staf produksi. Ia menyebutkan bahwa saat ini, meski biaya produksi mulai meningkat, keuntungan belum sepenuhnya mengalir ke para animator dan staf studio.
“Kalau kita bisa mengatur ulang bagaimana aset dialokasikan antara perusahaan produksi dan staf, bukan tidak mungkin semua staf studio bisa berkendara dengan Mercedes Benz,” ujarnya, dengan nada yang setengah bercanda namun menyimpan kritik serius terhadap kondisi industri saat ini.
Pernyataan tentang “mampu beli Benz” ini bukan sekadar bicara soal mobil mewah. Dalam konteks budaya Jepang dan industri profesional, Benz menjadi simbol kemapanan dan keberhasilan finansial—mirip seperti ungkapan “punya rumah sendiri” yang sering dijadikan tolok ukur pencapaian hidup di banyak negara.
Ia juga menyoroti kekurangan animator berkualitas tinggi yang bisa mengerjakan proyek sekelas film layar lebar, ditambah masalah lama seputar overwork dan gaji rendah di kalangan staf industri anime.
Lebih lanjut, Kikuchi menyatakan bahwa masa depan industri ini sangat bergantung pada kemampuan untuk menembus pasar global. Ia menyebut negara-negara seperti Brasil, Meksiko, dan India sebagai pasar potensial yang bisa menjadi ladang emas bagi pertumbuhan anime di masa mendatang.
Dengan visi yang berani ini, Kadokawa tampaknya tak hanya ingin memperbesar pangsa pasar anime Jepang di dunia, tapi juga memperbaiki kesejahteraan para pekerja kreatif yang selama ini menjadi tulang punggung industri.










