Seeds of Scarlet Longing: Zhao Qing Sempat Tersipu Malu Baca Naskah Soal Adegan Intim, Puji Profesionalisme Zheng Yecheng

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Aktris muda China Zhao Qing akhirnya buka-bukaan soal pengalaman syuting drama fantasi romantis terbarunya, Seeds of Scarlet Longing (在你眉梢种红豆). Dalam drama tersebut, ia dipasangkan dengan Zheng Yecheng dan memerankan karakter Jiang Zhu, sosok iblis muda yang ceria, blak‑blakan, dan memiliki kemampuan mencintai dengan penuh keyakinan.

Dalam drama ini, Jiang Zhu dan Shen Miu terikat oleh “xiangsi gu”, racun cinta yang memaksa keduanya berbagi takdir. Premis itu membuka jalan bagi hubungan yang penuh ketegangan, kedekatan fisik yang intens, serta berbagai adegan romantis yang langsung menjadi bahan pembicaraan penonton — dari tatapan jarak dekat di bawah cahaya kunang‑kunang, hujan kembang api yang eksklusif, hingga adegan gendong yang manis namun sarat emosi.

Namun di balik layar, Zhao Qing mengaku reaksinya jauh dari tenang saat pertama kali membaca naskah.

- Advertisement -

“Waktu lihat adegan-adegan itu, saya benar-benar tersipu. Saya sampai mikir, ini benar bisa difilmkan?” ujarnya sambil tertawa.

Ia menjelaskan bahwa beberapa adegan memiliki pendekatan visual yang sensual, ada ketegangan fisik, tetapi di saat yang sama karakter tidak boleh dimainkan dengan niat yang terlalu “bernafsu”. Bagi Zhao Qing, menjaga keseimbangan emosi itu justru menjadi tantangan terbesar.

Salah satu adegan paling sulit adalah pertemuan pertama Jiang Zhu dan Shen Miu. Di layar, adegan itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun proses pengambilan gambarnya memakan waktu hampir semalaman. Zhao Qing menyebut adegan pembuka tersebut sangat penting karena harus langsung membangun atmosfer sekaligus relasi dua karakter yang terikat takdir.

- Advertisement -

“Adegan itu memang punya nuansa sensual, tapi kami harus memainkannya dengan cara yang tetap natural. Mengatur intensitas emosinya sangat menantang,” jelasnya.

Ia pun secara khusus berterima kasih kepada Zheng Yecheng yang memberinya rasa aman selama syuting. Sebagai aktor yang lebih senior, Zheng disebutnya sangat profesional dan stabil di lokasi. Pendekatan kerja yang fokus pada karakter membantu Zhao Qing mengalihkan rasa canggung menjadi konsentrasi penuh pada Jiang Zhu.

“Kami di sana bukan sebagai diri kami sendiri. Dia adalah Shen Miu, saya adalah Jiang Zhu. Kami hanya menyelesaikan apa yang memang secara alami terjadi karena racun itu,” katanya.

Tak hanya soal adegan romantis, Zhao Qing juga memuji kemampuan emosional lawan mainnya, terutama dalam adegan menangis. Ia menggambarkan momen ketika Shen Miu menangis sebagai salah satu adegan yang paling membekas.

“Air matanya benar‑benar mengalir deras. Cara dia bermain seperti hewan kecil yang terluka dan mencari kehangatan. Saya sampai screenshot dan kirim ke dia, saya bilang, ‘Kenapa bisa terlihat begitu menggemaskan dan menyedihkan sekaligus?’”

Zhao Qing menekankan bahwa Zheng Yecheng tidak hanya profesional dalam setiap adegan, tetapi juga sangat membantu dalam membangun chemistry mereka di layar. Karakter Shen Miu yang awalnya tertutup dan penuh kontrol, secara perlahan menjadi lebih terbuka berkat interaksi dengan Jiang Zhu. Menurut Zhao Qing, Zheng berhasil menunjukkan sisi Shen Miu yang lembut, penuh konflik batin, dan manusiawi, sehingga setiap adegan dengan Jiang Zhu terasa lebih hidup, lebih emosional, dan lebih mengena di hati penonton.

- Advertisement -

Di sisi lain, karakter Jiang Zhu sendiri menjadi sorotan karena dinilai berbeda dari peran Zhao Qing sebelumnya. Penonton memuji sosoknya yang lincah, ceria, dan memiliki lapisan emosi yang lebih matang.

Menurut Zhao Qing, hal paling istimewa dari Jiang Zhu bukanlah pesonanya, melainkan kemampuannya untuk tetap percaya pada kebaikan dunia meski sadar bahwa dunia tidak selalu baik.

“Ia tahu ada hal-hal buruk di luar sana, tapi tetap memilih percaya bahwa kebaikan akan terjadi. Dan dia berani memberi cinta. Itu menurut saya sangat langka,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa sisi blak-blakan Jiang Zhu cukup mirip dengan kepribadiannya sendiri. Karakter yang berbicara terus terang, terkadang “langsung apa adanya”, justru membuatnya merasa nyaman saat memerankannya.

Selain membahas dramanya, Zhao Qing juga menyinggung perkembangan aktingnya yang belakangan ini banyak mendapat pujian. Ia mengaku sangat mencintai profesi aktor dan menghargai “umur profesional” seorang aktor. Baginya, komentar publik di internet, baik positif maupun negatif, adalah bagian penting dari proses bertumbuh.

“Kalau ada yang menunjukkan kekurangan kita, itu pengalaman yang sangat berharga. Yang kurang baik diperbaiki saja. Saya percaya kerja keras tidak pernah salah.”

Melalui Seeds of Scarlet Longing (在你眉梢种红豆), Zhao Qing memperlihatkan langkah yang lebih mantap dalam kariernya. Ia tak hanya berani mengeksplorasi adegan yang lebih menantang dan sensual, tetapi juga menunjukkan pemahaman emosional yang lebih dalam terhadap karakter yang ia mainkan. Chemistry-nya dengan Zheng Yecheng pun menjadi salah satu kekuatan utama drama ini — perpaduan antara Jiang Zhu yang ekspresif dan Shen Miu yang awalnya tertutup, terikat oleh racun cinta yang perlahan berubah menjadi ikatan yang tak terelakkan.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments