Film The Red Line di Netflix Ungkap Fenomena Nyata Penipuan Call Center Profesional yang Marak di Thailand

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Panggilan dari call center penipu kini bukan lagi hal baru. Bahkan, banyak orang sudah hampir terbiasa sehingga jarang berpikir, mengapa masih ada korban jatuh ke jebakan ini? The Red Line (เส้นตาย สายลวง), film thriller-drama terbaru di Netflix, menghadirkan kisah ketika sistem hukum terlambat, dan korban harus bangkit menuntut keadilan sendiri.

Film ini merupakan karya tim kreator HUNGER คนหิว เกมกระหาย, dengan Sithisiri Mongkolsiri sebagai sutradara dan Kongdej Jaturanrasmee sebagai produser sekaligus penulis naskah. Mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan meneliti dunia call center scam dengan rinci, untuk menampilkan film yang bisa menyalurkan kemarahan sekaligus membuka luka psikologis korban, serta memaksa penonton melihat masalah ini dengan perspektif baru.

Menyelami sisi yang jarang terlihat dari korban

Seringkali, korban penipuan justru mendapat kritik ketika berita tentang kasus mereka tersebar. Dalam film ini, penonton diajak menelusuri sisi psikologis korban. Kesalahan mereka bukan semata karena lalai atau serakah, tapi karena penipu secara sistematis menargetkan ketakutan, rasa cinta keluarga, atau impian untuk melindungi orang terdekat. Dalam sekejap, keputusan salah bisa terjadi—menghilangkan uang, rasa percaya diri, bahkan rasa aman diri.

- Advertisement -

Mew Nittha Jirayungyurn (Mew Nittha), yang memerankan Or, salah satu korban, menceritakan persiapannya:
“Saya menonton berita tentang orang yang tertipu dan merasakan kesedihan mereka yang lebih dalam dari sekadar kehilangan uang. Uang hasil kerja keras seumur hidup bisa hilang dalam hitungan menit. Bahkan kalau ingin menuntut kembali, tidak tahu caranya. Korban juga kehilangan rasa percaya diri, muncul rasa takut dan curiga di segala hal. Selain uang, mereka juga kehilangan diri mereka sendiri. Saya membawa semua itu ke akting saya agar penonton bisa memahami dan berempati.”

Selain Or, ada Fai (diperankan oleh Esther Supreeleela) dan Wawwow (Chutima Maholkul) yang menampilkan dampak psikologis korban dengan realistis. Pemeran pendukung lain termasuk Nuttanan Kunpat, yang sebelumnya tampil sebagai Amy di film Master of the House, menambah kedalaman cerita keluarga korban yang terkena penipuan.

Mengungkap dunia scam yang jarang diketahui

Tim produksi melakukan riset lapangan mendalam dengan para pelaku call center scam—tanpa kerja sama operasional, tetapi untuk memahami bagaimana mereka beroperasi. Film ini menampilkan kantor yang menyerupai aslinya, pembagian tim dari line one hingga line three, masing-masing dengan strategi berbeda untuk menipu korban hingga jutaan baht.

- Advertisement -

Todsapol Maisuk (Top), pemeran Ood, berbagi:
“Anda akan melihat dunia call center scam seperti yang belum pernah ditampilkan sebelumnya. Saya berbicara dengan penipu asli yang menjadi inspirasi Ood, dan menemukan sistemnya sangat terstruktur—kompetisi, evaluasi harian, hadiah bagi yang sukses, dan hukuman bagi yang gagal. Sistem ini memaksa para penipu selalu mengembangkan strategi baru agar mencapai target. Film ini membantu penonton memahami motivasi mereka.”

Menyalakan kemarahan untuk perubahan

Sutradara Sithisiri Mongkolsiri menambahkan:
“Film ini bukan sekadar hiburan, tapi bentuk balas dendam yang bisa saya lakukan sebagai pembuat film. Kami ingin menghentikan pandangan bahwa menjadi korban hanyalah nasib buruk. Film ini mengajak penonton untuk mulai berpikir dan bertindak menghadapi masalah. Ketika kita dieksploitasi—entah oleh call center, politisi, atau pejabat—apakah kita diam atau bangkit melakukan sesuatu? Itu inti dari film ini.”

The Red Line bukan hanya kisah korban. Film ini menantang penonton untuk bertanya pada diri sendiri: akan menyerah pada nasib, atau bangkit dan berjuang dengan cara sendiri? Saksikan perjuangan menuntut keadilan dari orang biasa di Netflix sekarang.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments