LayarHijau.com— Drama baru yang dibintangi oleh Lin Yi dan Lu Yuxiao, When I Meet the Moon baru-baru ini merilis trailer terbaru yang memperlihatkan perjuangan karakter Yun Li dalam mengejar cinta Fu Shize. Dalam cuplikan tersebut, Yun Li yang diperankan Lu Yuxiao digambarkan berani mengejar perasaannya, sementara karakter Fu Shize yang dimainkan Lin Yi menghadapi dilema emosionalnya sendiri.
Drama ini menjadi salah satu judul yang paling dinantikan karena diangkat dari novel populer karya Zhu Yi berjudul Fold the Moon, yang merupakan bagian dari trilogi Nanwu-Yihe. Dua novel lain dalam trilogi tersebut telah lebih dulu diadaptasi menjadi drama sukses, yakni Hidden Love dan The First Frost. Kedua drama ini meraih popularitas besar, baik di China maupun di pasar internasional, sehingga wajar jika ekspektasi terhadap When I Meet the Moon juga sangat tinggi.
Namun, sebelum drama ini resmi tayang, fenomena tak terduga justru sudah lebih dulu muncul di platform video terbesar dunia, YouTube. Dalam beberapa bulan terakhir, LayarHijau menemukan sejumlah channel yang menggunakan foto Lin Yi dan Lu Yuxiao sebagai thumbnail untuk video drama yang mereka unggah.

Tidak hanya sekadar memakai gambar kedua aktor tersebut, beberapa channel juga menggunakan judul yang sama atau variasi dari judul When I Meet the Moon, seperti “Meet a Moon”, “When You Meet the Moon”, hingga tetap menggunakan judul aslinya. Praktik ini membuat penonton mudah terkecoh dan mengira bahwa video tersebut merupakan bagian dari drama terbaru mereka.

Saat salah satu video tersebut diklik, terungkap bahwa isi kontennya sama sekali berbeda. Video tersebut ternyata menampilkan drama lain yang dibintangi Lin Yi bersama Yukee Chen, yaitu Memory Of Encaustic Tile, yang sebelumnya tayang di Youku, Viu, dan Viki. Setidaknya ada dua channel yang mengunggah episode penuh drama tersebut dengan judul yang diubah serta thumbnail yang menampilkan Lin Yi dan Lu Yuxiao. Salah satu video bahkan telah ditonton sekitar 29 ribu kali. Selain itu, ada pula channel yang mengunggah drama lain yang tidak berkaitan sama sekali dengan keduanya, namun tetap menggunakan thumbnail serupa dan meraih puluhan ribu penonton.
Tidak berhenti di situ, LayarHijau juga menemukan satu channel yang membuat trailer palsu When I Meet the Moon dengan memanfaatkan teknologi AI. Dalam video tersebut, wajah para karakter terlihat berbeda dan tidak sesuai dengan wajah asli Lin Yi maupun Lu Yuxiao, menambah potensi kebingungan bagi penonton yang menantikan drama ini.
Belum diketahui apakah platform resmi pemegang hak siar When I Meet the Moon maupun Memory Of Encaustic Tile telah menyadari keberadaan konten-konten tersebut. Namun fenomena ini kembali menyoroti maraknya praktik pengunggahan ulang dan manipulasi konten drama di YouTube.
Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru dan tidak hanya terjadi pada drama China. Praktik serupa juga kerap ditemukan pada drama Korea hingga serial Hollywood, di mana episode penuh atau potongan adegan diunggah ulang dengan judul berbeda, gambar thumbnail menyesatkan, hingga pengeditan video untuk menghindari deteksi sistem.
Sebagai platform, YouTube sendiri telah memiliki sistem bernama Content ID yang digunakan untuk mendeteksi pelanggaran hak cipta secara otomatis. Melalui sistem ini, pemilik konten dapat memilih untuk menghapus video atau justru mengambil alih pendapatan iklan dari video tersebut.

Dalam praktiknya, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa mekanisme ini tidak selalu berjalan secara konsisten. LayarHijau pernah mengunggah video ulasan drama Korea The Penthouse dengan menggunakan cuplikan berdurasi beberapa detik sebagai bagian dari pembahasan. Video tersebut awalnya tayang normal tanpa kendala.
Namun setelah jumlah penonton mencapai puluhan ribu, video tersebut kemudian menerima klaim hak cipta dari pihak pemegang hak siar. Klaim ini tidak menghapus video, melainkan mengalihkan pendapatan AdSense kepada pihak yang mengajukan klaim.
Pengalaman serupa juga terjadi pada video ulasan drama China yang menggunakan cuplikan trailer singkat. Dalam kasus ini, laporan dari salah satu platform penayang drama China berujung pada pemberian copyright strike, yaitu penalti resmi dari YouTube yang tidak hanya berdampak pada penghapusan video terkait, tetapi juga dapat membatasi fitur channel dan berisiko pada penutupan akun jika terjadi berulang.
Di luar konten drama, masalah klaim juga terjadi pada penggunaan musik. Beberapa kreator melaporkan bahwa musik dari NCS (NoCopyrightSounds) yang dikenal bebas digunakan tetap terkena klaim dari pihak ketiga. Dalam banyak kasus, klaim ini tidak bertujuan untuk menghapus video, melainkan mengambil alih pendapatan iklan.
Jika dibandingkan, muncul kontras yang cukup mencolok. Di satu sisi, video ulasan dengan penggunaan cuplikan singkat bisa terkena klaim atau bahkan strike. Namun di sisi lain, sejumlah channel yang mengunggah ulang episode penuh atau menggunakan thumbnail serta judul menyesatkan justru tetap bertahan di platform.
Tidak sedikit dari video tersebut yang masih dimonetisasi dan meraih jumlah penonton mulai dari puluhan ribu hingga jutaan kali. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi penerapan sistem pengawasan dan penegakan hak cipta di platform tersebut.
Di sisi lain, proses sengketa atau dispute klaim di YouTube juga tidak selalu mudah, terutama bagi channel kecil. Tanpa dukungan pemahaman hukum atau akses ke bantuan profesional, kreator sering berada dalam posisi yang lebih lemah. Dalam banyak kasus, sistem cenderung memberikan keuntungan awal kepada pihak yang mengajukan klaim hak cipta.
Kondisi ini memperlihatkan adanya paradoks dalam ekosistem YouTube. Di satu sisi, konten yang jelas-jelas melanggar dapat terus beredar dan menghasilkan keuntungan. Namun di sisi lain, konten ulasan yang menggunakan cuplikan singkat justru berisiko kehilangan monetisasi atau bahkan terkena penalti.









