LayarHijau.com – Kontroversi dugaan distorsi sejarah dalam drama Korea Perfect Crown (21세기 대군부인) yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok masih terus memanas di Korea Selatan. Meski dramanya telah tamat, kemarahan publik belum mereda dan kini berkembang menjadi petisi nasional yang menuntut penghapusan drama tersebut dari berbagai platform online.
Pada 22 Mei, sebuah petisi resmi diunggah ke papan petisi publik Majelis Nasional Korea Selatan dengan judul permohonan penghentian distribusi drama yang dianggap memicu distorsi sejarah dan kontroversi “Proyek Timur Laut”. Hingga 25 Mei pukul 17.10 waktu setempat, petisi itu telah memperoleh lebih dari 41 ribu dukungan atau melampaui 80 persen dari syarat minimum yang dibutuhkan untuk diteruskan ke pembahasan parlemen.
Dukung Layar Hijau
Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.
Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.
Untuk pengguna di Indonesia
Untuk pengguna internasional
Informasi lebih lanjut, klik di sini.
Penggagas petisi menuduh Perfect Crown mencampurkan unsur budaya Korea dan China secara problematik meski berlatar Korea Selatan versi monarki konstitusional fiksi. Mereka menyoroti penggunaan kostum, tata upacara, istilah, hingga simbol kerajaan yang dianggap tidak sesuai dengan sejarah dan tradisi Korea.
Karena serialnya sudah selesai tayang, tuntutan utama dalam petisi kini bukan lagi penghentian siaran televisi, melainkan penghapusan total drama tersebut dari layanan streaming dan platform video online baik di dalam maupun luar negeri. Petisi itu juga meminta pemerintah menghentikan dukungan terhadap rumah produksi terkait serta mempertimbangkan pembatasan izin penyiaran.
Adegan yang paling banyak menuai kritik berasal dari episode 11 yang tayang pada 15 Mei. Dalam adegan upacara penobatan, karakter Grand Prince Ian yang diperankan Byeon Woo Seok disebut mengenakan mahkota sembilan untaian yang identik dengan simbol negara bawahan, bukan mahkota dua belas untaian yang melambangkan seorang kaisar merdeka.
Selain itu, para pejabat kerajaan dalam drama meneriakkan “Cheonse, Cheonse, Cheoncheonse,” yang dapat dimaknai sebagai “Hidup Paduka selama seribu tahun,” sebuah seruan penghormatan yang secara historis digunakan untuk penguasa di bawah kaisar. Tata cara minum teh bergaya China serta pencampuran simbol kerajaan Joseon dengan sistem kekaisaran juga memicu kritik keras dari publik Korea.
Penggagas petisi menilai langkah revisi yang dilakukan tim produksi sudah terlambat. Sebelumnya, pihak drama memang telah membisukan audio di adegan kontroversial dan menghapus beberapa subtitle dalam versi tayangan ulang dan platform online. Namun menurut mereka, drama tersebut sudah lebih dulu tersebar secara global sehingga perubahan itu dianggap tidak cukup.
Sutradara Park Joon Hwa dan penulis Yoo Ji Won sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf resmi melalui wawancara dan situs drama. IU serta Byeon Woo Seok juga mengunggah surat permintaan maaf di media sosial masing-masing.
Petisi tersebut akan terus dibuka hingga 21 Juni mendatang. Jika jumlah dukungan menembus 50 ribu dalam 30 hari, kasus ini akan diteruskan ke komite terkait di Majelis Nasional Korea Selatan untuk dibahas lebih lanjut.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.


