Spring of the Blade Peroleh Respons Beragam dari Penonton China, Naskah Digarap 14 Penulis Dituding Buat Cerita Tidak Konsisten

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama China Spring of the Blade (一瓯春) yang dibintangi Xu Kai dan Zhou Ye mendapat respons beragam setelah resmi tayang. Drama kolosal yang dipromosikan sebagai kisah balas dendam dua karakter kuat ini mencatat sejumlah pencapaian pada awal penayangannya, tetapi juga menuai kritik dari penonton China terhadap alur cerita, dialog, hingga chemistry kedua pemeran utama.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah keterlibatan 14 penulis dalam pengerjaan naskah Spring of the Blade. Menurut analisis yang dikutip dari laporan media China, pembagian pengerjaan naskah kepada banyak penulis dinilai membuat sejumlah bagian cerita terasa tidak menyatu dan menyebabkan logika cerita terputus-putus.

Beberapa adegan juga dianggap terlalu dibuat-buat, termasuk kemunculan seorang pria yang menyamar sebagai pendeta Tao untuk melakukan aksi mistis, penggunaan topi berkerudung putih pada malam hari, pertemuan yang dianggap sengaja direkayasa, hingga adegan ciuman yang dinilai tidak mengalir secara alami dari perkembangan cerita.

- Advertisement -

Kritik terhadap naskah tersebut turut muncul di tengah respons yang terbelah terhadap penampilan Xu Kai dan Zhou Ye. Zhou Ye memerankan karakter perempuan yang cermat dan penuh perhitungan, tetapi sebagian penonton menilai perubahan emosinya terasa kaku. Dialog karakternya juga dianggap terlalu modern untuk latar cerita, sementara ekspresi matanya dinilai kurang kuat.

Xu Kai, yang berperan sebagai pejabat tinggi yang tegas dan berani mengambil keputusan, juga mendapat kritik terkait dialog. Pengucapannya dinilai kurang jelas dan cara membawakan dialognya dianggap kurang bertenaga oleh sebagian penonton. Di sisi lain, Fu Dalong dan Miao Pu sebagai pemeran pendukung justru mendapat perhatian karena dinilai menghadirkan aura yang lebih matang dan stabil.

Dari sisi performa penayangan, Spring of the Blade sebenarnya memiliki sejumlah catatan positif. Pada hari pertama, pangsa penayangan efektif episode utama berdasarkan Yunhe Data mencapai 9,6 persen dan menempati posisi pertama di antara drama kolosal yang tayang pada periode yang sama. Jumlah reservasi di dua platform juga dilaporkan telah melampaui 4 juta.

- Advertisement -

Drama ini juga menjadi karya kelima Xu Kai dalam hampir tiga tahun terakhir yang mencatat penayangan hari pertama berdasarkan Yunhe Data di atas 10 juta. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya tercermin pada indikator popularitas internal platform.

Di iQIYI, tingkat popularitas Spring of the Blade tercatat 4.170, sedangkan di Youku angkanya mendekati 5.000. Keduanya belum mencapai angka yang biasanya digunakan sebagai patokan drama dengan performa sangat tinggi. Dalam enam episode pertama, drama ini juga tercatat memperoleh 16 penayangan iklan, yang dinilai relatif biasa jika dibandingkan dengan sejumlah drama lain pada periode yang sama.

Meski mendapat kritik terhadap cerita dan akting pemeran utama, aspek visual Spring of the Blade justru memperoleh penilaian positif. Drama ini dipuji karena menghadirkan estetika era Song dengan menggunakan lokasi bangunan kuno nyata, termasuk kawasan Puyuan, sebagai lokasi syuting.

Produksi tersebut juga disebut menghindari penggunaan latar layar hijau yang terlihat murah serta filter visual yang berlebihan. Tata busana, tata rias, desain set, pencahayaan, dan pemilihan lokasi dibuat untuk mempertahankan nuansa klasik era Song.

Karena itu, respons terhadap Spring of the Blade sejauh ini memperlihatkan dua sisi yang cukup berbeda. Dari segi visual dan estetika produksi, drama ini mendapat banyak apresiasi, sementara jumlah penulis naskah yang mencapai 14 orang justru menjadi salah satu hal yang disorot ketika penonton memperdebatkan konsistensi cerita dan perkembangan sejumlah adegan.

Share This Article
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted