Review Media China untuk Blades of Guardians: Adaptasi Manhua yang Sukses tapi…

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami
- Advertisement -

LayarHijau.com – Film epik bela diri terbaru, Blades of Guardians (镖人:风起大漠 – Biao Ren: Feng Qi Da Mo), mencuri perhatian media China sejak penayangan perdananya pada 17 Februari 2026. Sejumlah media, termasuk Sohu, memberikan ulasan mendalam terhadap film ini yang langsung menempati posisi ketiga box office, di bawah Pegasus 3 dan Scare Out, dengan perolehan 220 juta yuan. Film ini bahkan diproyeksikan mampu menembus pendapatan kotor hingga 1,5 miliar yuan.

Blades of Guardians mengangkat kisah Dao Ma, seorang pemburu hadiah yang juga menjadi buronan paling dicari kedua. Ia menerima tugas dari kepala klan Mo untuk mengawal sebuah target misterius dalam perjalanan berbahaya. Cerita berlatar masa transisi antara Dinasti Sui dan Dinasti Tang, periode penuh pergolakan dalam sejarah Tiongkok. Film ini digarap oleh sutradara legendaris Yuen Woo-ping, yang dikenal luas berkat kepiawaiannya dalam merancang koreografi laga.

- Advertisement -

Film ini merupakan adaptasi dari manhua populer berjudul Biao Ren karya Xu Xianzhe, yang juga dikenal dengan judul Blades of the Guardians. Komik tersebut terkenal lewat gaya visual hitam-putih yang kasar, penuh tekanan emosional, serta pendekatan cerita yang tidak konvensional. Berbeda dari kisah pendekar klasik pada umumnya, karya ini menawarkan nuansa yang lebih keras dan realistis, menjadikannya salah satu judul yang menonjol di genre bela diri.

Dalam ulasannya, Sohu menilai keberhasilan terbesar film ini terletak pada proses alih media dari komik ke layar lebar. Banyak adaptasi komik kerap terjebak pada peniruan panel demi panel, namun Blades of Guardians dinilai mampu menerjemahkan kekuatan visual hitam-putih manhua aslinya ke dalam bahasa sinematik yang lebih luas dan dinamis.

Salah satu contoh yang disorot adalah adegan balas dendam Ayuya di tengah badai pasir. Jika dalam versi komik kemarahan Ayuya digambarkan melalui close-up wajah yang intens, film memilih pendekatan berbeda dengan memanfaatkan wide shot dan lanskap badai pasir yang masif untuk mengeksternalisasi gejolak emosinya. Sejumlah adegan laga juga disebut sebagai kreasi orisinal film, seperti pertarungan Dao Ma dan Shu dengan latar kobaran api, duel Dao Ma dan Diting di tengah badai pasir, hingga adegan pembuka yang menampilkan Jet Li, Zhang Jin, dan Wu Jing.

- Advertisement -

Meski demikian, Sohu juga menyoroti sejumlah kelemahan. Film berdurasi 126 menit ini disebut memadatkan materi setara 15 episode animasi, sehingga ritme cerita terasa kurang proporsional. Beberapa karakter penting muncul tanpa ruang pengembangan yang memadai. Shu, yang cukup menonjol di karya asli, mengalami pemangkasan adegan, sementara Pei Xingyan lebih berfungsi sebagai pendorong alur cerita. Konflik takdir antara Dao Ma dan Diting pun hanya disinggung secara singkat lewat dialog, tanpa eksplorasi mendalam.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Sohu menilai Blades of Guardians tetap menjadi langkah berani di tengah meredupnya film laga klasik Tiongkok. Dengan investasi besar serta standar produksi tinggi, film ini dianggap sebagai upaya serius untuk menghidupkan kembali genre bela diri dengan pendekatan visual dan narasi yang lebih modern.

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments