LayarHijau.com – Penulis naskah sekaligus produser film Blades of the Guardians (镖人:风起大漠), Yu Baimei, baru-baru ini membahas bagaimana perkembangan teknologi justru membuat penonton semakin merindukan sesuatu yang terasa “hidup” dan autentik dalam film wuxia.
Dalam sebuah wawancara dengan CCTV-6, Yu Baimei mengatakan bahwa kemajuan teknologi dalam industri film tidak serta-merta menggeser kebutuhan penonton terhadap unsur manusiawi dalam sebuah karya.
Menurutnya, semakin maju teknologi, semakin besar pula kebutuhan penonton untuk merasakan kejujuran dan kedekatan emosional dalam cerita.
“Semakin teknologi berkembang, penonton justru semakin membutuhkan sesuatu yang terasa hidup. Mereka ingin merasakan ketulusan, sesuatu yang membumi, penuh vitalitas, dan juga unsur budaya tradisional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dari sisi aksi, film wuxia masih memiliki ruang besar untuk inovasi. Dalam proses produksi Blades of the Guardians, tim kreatif menggabungkan teknik tradisional dengan teknologi modern.
“Dalam proses syuting, kami memang banyak menggunakan metode tradisional, seolah ‘dibuat dengan tangan’. Tapi sebenarnya di dalamnya juga ada banyak unsur teknologi,” jelasnya.
Sempat Diperkirakan Akan Rugi
Film tersebut menjadi salah satu kejutan di musim liburan Tahun Baru Imlek tahun ini. Blades of the Guardians menjadi satu-satunya film pada periode itu yang berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan box office setelah penayangan dimulai.
Dalam sembilan hari pertama, film tersebut sudah menembus 900 juta yuan (sekitar Rp1,98 triliun) dan akhirnya melampaui 1,3 miliar yuan (sekitar Rp2,86 triliun), menjadikannya film wuxia dengan pendapatan tertinggi dalam sejarah box office.
Kesuksesan ini membuat sebagian pengamat melihatnya sebagai sinyal kebangkitan kembali film wuxia di industri perfilman China.
Dalam wawancara yang sama, Yu Baimei juga mengungkapkan bahwa proyek tersebut sejak awal sebenarnya dianggap berisiko secara finansial. Ia bahkan mengaku dirinya dan Wu Jing sempat berpikir film itu kemungkinan besar akan merugi.
“Kami sejak awal sudah siap jika harus rugi. Tapi meskipun rugi, kami tetap ingin membuatnya,” kata Yu Baimei.
Ia menjelaskan bahwa motivasi Wu Jing membuat film ini sangat personal. Sejak kecil Wu Jing adalah atlet wushu, dan kini usianya sudah lebih dari 50 tahun.
“Jika dia tidak bisa membuat satu lagi film wuxia, saya rasa dia akan merasa seperti ‘tidak bisa menutup mata dengan tenang’. Itulah motivasi terdalamnya membuat film ini,” ujar Yu Baimei.
Box Office Tembus Lebih dari 1,3 Miliar Yuan
Setelah dirilis, film tersebut justru mendapat respons positif dari penonton. Berkat reputasi yang baik dari mulut ke mulut, Blades of the Guardians mengalami lonjakan popularitas pada paruh kedua musim liburan.
Saat ini pendapatan box office sudah melampaui 1,3 miliar yuan (sekitar Rp2,86 triliun) dan diperkirakan masih berpotensi menembus 1,4 miliar yuan (sekitar Rp3,08 triliun).
Yu Baimei juga menegaskan bahwa film tersebut tidak mengalami kerugian dan hampir sepenuhnya balik modal. Ia bahkan mengatakan semakin banyak penonton mulai tertarik kembali pada genre wuxia.
“Setiap hari ada penonton yang mendesak kami, meminta agar segera membuat film keduanya,” ungkapnya.
Tantangan Besar: Kekurangan Bintang Film Aksi
Namun, menurut Yu Baimei, kebangkitan genre wuxia juga menghadapi tantangan besar: kekurangan generasi baru bintang film aksi.
Ia menilai bahwa saat ini industri film China mengalami “kekosongan generasi” dalam hal aktor aksi.
“Wu Jing dan Nicholas Tse mungkin adalah generasi terakhir bintang aksi yang dikenal hampir oleh seluruh masyarakat,” katanya.
Yu Baimei juga membagikan pengalaman pribadi ketika bertemu dengan Jet Li di lokasi syuting Blades of the Guardians. Ia mengaku sangat emosional karena sejak kecil mengidolakan Jet Li setelah menonton film klasik Shaolin Temple.
Namun ia menyadari adanya jarak generasi ketika melihat reaksi asistennya yang masih muda.
“Asisten saya sangat muda, bahkan dia sama sekali tidak tahu siapa Jet Li,” ujarnya.
Menurut Yu Baimei, dalam lebih dari satu dekade terakhir, industri film China belum melahirkan bintang aksi besar yang benar-benar baru.
“Selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, tidak ada superstar aksi baru di pasar film China. Itulah salah satu kesulitan terbesar yang kami hadapi,” katanya.
Mendorong Generasi Baru Aktor Aksi
Karena itu, dalam produksi Blades of the Guardians, tim kreatif mencoba mendorong konsep “yang lama membimbing yang baru” untuk menciptakan generasi baru bintang film aksi.
Ia menyebut beberapa aktor muda yang menurutnya memiliki potensi besar, termasuk Chen Lijun dan Yu Shi.
“Generasi aktor seperti mereka memiliki kemungkinan yang tidak terbatas,” ujar Yu Baimei.










