Komedian Stand-Up AI Ramai di China, Akun Baru Bisa Raup 200 Ribu Followers dalam Sebulan

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
Dukung Kami

Kami berusaha menghadirkan konten yang bisa tetap diakses semua orang tanpa batas.

Dukungan kecil dari kalian membantu kami tetap berjalan dan menjaga kemandirian.

Kalau kalian berkenan, dukungan bisa dimulai dari Rp5.000 lewat Trakteer.


- Advertisement -

LayarHijau.com – Ketika kontroversi soal aktor AI belum mereda, tren baru muncul di industri hiburan China: komedian stand-up berbasis AI. Sejak kemunculan teknologi Seedance 2.0, berbagai platform media sosial dipenuhi akun “stand-up comedian AI” yang tampil layaknya manusia sungguhan—punya nama, wajah, gaya bicara, bahkan panggung kecil dengan suara tawa penonton di latar belakang.

Mereka membawakan materi tentang kehidupan kerja, hubungan, hingga isu teknologi dengan bahasa yang sangat rapi. Jika bukan karena visual yang terlalu sempurna, hampir tidak ada perbedaan mencolok dengan komedian manusia. Humor—yang dulu dianggap sebagai salah satu kemampuan paling manusiawi—kini mulai diproduksi secara massal oleh AI.

Dari Eksperimen Jadi Viral: Akun Baru Tembus Ratusan Ribu Followers

Salah satu kreator di balik akun komedian AI bernama “Alita”, Jiuqian, mengungkapkan bahwa batas antara manusia dan AI kini semakin kabur. “Saya rasa sekarang sudah sangat sulit untuk dibedakan. Platform AI bisa menghasilkan banyak versi naskah, dan saya tinggal memilih yang paling terasa nyata. Setelah dipilih seperti itu, kemampuan penonton untuk membedakan sebenarnya tidak terlalu kuat,” ujarnya.

- Advertisement -

Ia baru mulai mengelola akun tersebut sejak akhir Februari, namun dalam waktu kurang dari satu bulan, jumlah pengikutnya sudah mencapai 200 ribu. Fenomena ini bukan kasus tunggal. Kreator lain, Xiaojiu, juga mencatat pertumbuhan serupa, bahkan pernah mendapatkan tambahan 30 ribu followers hanya dalam waktu 24 jam.

Menariknya, keduanya menilai distribusi konten AI di platform berjalan secara “normal”. “Saya tidak bisa bilang ini jalur yang didorong khusus oleh platform. Kontennya masuk ke traffic pool biasa, platform tidak melakukan intervensi,” jelas Jiuqian. Saat ini, video “Alita” bisa meraih sekitar 2 juta penayangan per hari.

- Advertisement -

Namun di sisi penonton, kebingungan masih sering terjadi. Di kolom komentar, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sedang menonton konten AI. Ada yang bertanya lokasi panggung, ada yang ragu apakah itu manusia sungguhan, bahkan ada yang yakin bahwa sosok tersebut adalah manusia yang hanya menambahkan label AI.

Kreator Biasa Ikut Masuk, Bukan Didominasi Komika Profesional

Angela, seorang kreator yang sebelumnya bereksperimen dengan AI untuk animasi dan film pendek, mengaku bahwa video stand-up justru memberikan respons terbaik. “Awalnya cuma coba-coba karena seru, tapi ternyata datanya paling bagus. Sekarang saya malah ingin membuat akun khusus komedian AI,” katanya.

Ia sendiri tidak memiliki latar belakang komedi profesional. Sama seperti banyak kreator lain di bidang ini, Angela hanyalah penonton setia stand-up. Bahkan, hanya sedikit klub komedi tradisional yang benar-benar masuk ke ranah AI. Sebagian besar pelaku justru berasal dari kalangan amatir atau penggemar.

Xiaojiu, misalnya, pernah menjadi komedian stand-up profesional sebelum akhirnya keluar dari industri dan kini menjalankan dua kafe di Beijing. Sementara Jiuqian bekerja di perusahaan internet dan hanya penikmat pertunjukan stand-up. Ada pula pihak perusahaan AI yang membuat akun semacam ini untuk menguji kemampuan teknologi mereka. “Tujuan utamanya tetap untuk memverifikasi kemampuan model AI kami,” ungkap salah satu perwakilan perusahaan.

Fenomena ini menunjukkan satu hal yang jelas: AI menurunkan “ambang masuk” dunia stand-up secara drastis.

- Advertisement -

Produksi Cepat dan Murah, Tapi Tetap Butuh Ide Orisinal

Angela menjelaskan bahwa pembuatan satu video dimulai dari diskusi dengan model bahasa seperti ChatGPT atau Gemini untuk menentukan karakter. “Saya ingin karakter yang cantik dan cerah. Saya suka Jun Ji-hyun dan Zhu Zhu, jadi saya gabungkan nuansa mereka untuk membuat prompt,” jelasnya.

Setelah itu, ia menggunakan AI lain untuk membuat visual karakter, menyesuaikan detail seperti rambut dan pakaian, lalu membuat tampilan dari berbagai sudut. Tahap berikutnya adalah menciptakan latar panggung dan penonton virtual, sebelum semuanya digabungkan menjadi video dengan instruksi detail terkait pencahayaan, ekspresi, hingga jeda dialog.

“Semua proses itu hanya butuh sekitar dua jam,” katanya.

Xiaojiu dan Jiuqian membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 8 hingga 20 jam, namun sebagian besar disebabkan oleh antrean sistem. “Kalau tidak perlu menunggu, pekerjaan fokus sebenarnya hanya dua sampai tiga jam,” ujar Xiaojiu.

Meski biaya produksi rendah, Xiaojiu menegaskan bahwa kreativitas tetap menjadi faktor utama. “Saya dulu komedian, jadi semua materi tetap saya tulis sendiri. Dalam stand-up, yang paling tabu adalah plagiarisme. Harus benar-benar orisinal,” tegasnya.

Kelemahan AI Masih Terlihat, dari Ekspresi Aneh hingga Gagal Lucu

Menurut Xiaojiu, keterbatasan teknis masih sering muncul dalam proses produksi. Ia menyebut istilah “gacha” untuk menggambarkan hasil yang tidak selalu sesuai harapan. “Sering kali satu konten harus dibuat empat sampai lima kali, dan tingkat kepuasan saya kurang dari 30 persen,” ungkapnya.

Kesalahan khas AI juga masih terlihat, mulai dari ekspresi wajah yang tidak natural, gerakan tubuh yang tidak realistis, hingga detail aneh seperti dua tangan kiri. Angela bahkan pernah mendapatkan hasil di mana karakter sudah mengangkat tangan, tetapi mikrofon tetap menempel di mulut.

Lebih dari itu, AI dinilai masih belum benar-benar memahami humor manusia. Xiaojiu pernah mencoba membuat materi satire menggunakan AI, namun hasilnya justru terasa aneh dan tidak memiliki punchline.

“Kalau dibaca sebagai teks mungkin terasa sedikit filosofis, tapi dalam konteks stand-up, itu tidak punya logika dan tidak ada punchline sama sekali,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan soal fenomena “AI hallucination”. “Semakin sering berinteraksi dengan AI, kita harus semakin punya penilaian sendiri. Kadang awalnya benar, tapi lama-lama bisa mulai asal bicara,” katanya.

Meski begitu, ia mengaku tidak terlalu cemas soal kemungkinan tergantikan oleh AI. “Ada mungkin 100 hal yang membuat saya cemas dalam hidup, digantikan AI mungkin nomor 101,” ujarnya santai.

Di sisi lain, banyak penonton justru menikmati mencari “kesalahan” AI di kolom komentar. “Orang-orang suka sekali menemukan celah untuk membuktikan bahwa AI belum sempurna. Mungkin itu juga bentuk hiburan,” katanya, sebelum menambahkan, “atau mungkin itu cara mereka membuktikan nilai diri mereka sendiri.”

Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments