LayarHijau.com – Game roguelite bertema wuxia berjudul Wuxia Survivors (群侠传:幸存者) menarik perhatian setelah meraih 96% ulasan positif di Steam. Game yang dikembangkan oleh kreator bernama Nenly ini dibuat hanya dalam waktu sekitar tiga bulan, meskipun sang pengembang mengaku tidak memiliki pengalaman membuat game, tidak pernah menulis kode pemrograman, dan bahkan belum pernah menggunakan game engine sebelumnya.
Wuxia Survivors memasuki tahap Early Access di Steam pada Agustus 2026 dengan strategi peluncuran gratis. Perpaduan teknik bela diri dari berbagai perguruan, kombinasi jurus yang beragam, serta adegan sinematik membuat game ini dengan cepat menarik perhatian pemain. Setelah mengumpulkan lebih dari 1.000 ulasan, game tersebut memperoleh predikat Overwhelmingly Positive dengan 96% ulasan positif.
Dukung Layar Hijau
Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.
Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.
Untuk pengguna di Indonesia
Untuk pengguna internasional
Informasi lebih lanjut, klik di sini.
Berawal dari Novel Wuxia Jin Yong
Dalam video yang dibagikan melalui Bilibili, Nenly menceritakan bahwa ide membuat game ini muncul pada awal tahun ketika dirinya sedang memulihkan kesehatan. Selama masa istirahat, dia kembali membaca sejumlah novel wuxia karya Jin Yong sekaligus memainkan game dengan mekanisme survivor yang menjadi favoritnya.
Kedua hal tersebut kemudian menginspirasinya untuk menciptakan game sendiri. Mulai April 2026, Nenly menggunakan Godot sebagai game engine dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu hampir seluruh proses pengembangan.
Melalui pendekatan yang dikenal sebagai vibe coding, dia menggunakan AI untuk menghasilkan dokumen perencanaan, skrip logika pemrograman, materi sampul, ilustrasi bergaya piksel, hingga musik. Pendekatan ini memungkinkan Nenly mengubah idenya menjadi game yang dapat dimainkan dan dirilis di Steam dalam waktu sekitar tiga bulan.
Habiskan 5 Miliar Token AI, Biaya Produksi Rp10–16 Juta
Meski proses pengembangannya melibatkan penggunaan AI dalam skala besar, biaya pembuatan game tersebut dilaporkan relatif terjangkau. Menurut laporan sumber, proses pengembangan menghabiskan sekitar 5 miliar token AI, termasuk biaya berlangganan berbagai perangkat AI.
Total biaya produksinya diperkirakan hanya sekitar 20.000–30.000 dolar Taiwan baru (NT$), atau setara dengan sekitar Rp10–16 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI dapat membantu menekan biaya awal pengembangan game, terutama bagi kreator independen yang tidak memiliki latar belakang teknis.
Keberhasilan Nenly juga memperlihatkan bagaimana perangkat AI generatif dapat membantu seseorang mewujudkan ide kreatif menjadi produk yang siap dipasarkan. Namun, pencapaian ini tidak serta-merta berarti seluruh proses pembuatan game dapat dilakukan tanpa pengetahuan teknis atau keterlibatan manusia.
Pengembangan Game dengan AI Tetap Memiliki Tantangan
Di balik sambutan positif terhadap game tersebut, penggunaan AI untuk menulis kode pemrograman juga memunculkan perdebatan di kalangan komunitas game China.
Sejumlah pengguna memperingatkan bahwa AI memang dapat mempercepat pembuatan fungsi dasar pada tahap awal. Namun, seiring bertambahnya kompleksitas proyek, kode yang dihasilkan berulang kali oleh AI berisiko memiliki struktur yang tidak konsisten, mekanisme pencegahan kesalahan yang kurang memadai, serta berbagai bagian kode yang tidak tersusun dengan baik.
Keterbatasan konteks AI juga dapat menimbulkan masalah ketika pengembang terus meminta perubahan. Model AI bisa kehilangan sebagian konteks dari pekerjaan sebelumnya sehingga perbaikan pada satu bagian justru merusak bagian lain. Situasi semacam ini dikenal sebagai masalah fix A, break B, ketika sebuah perbaikan memunculkan kerusakan baru di tempat lain.
Tantangan tersebut menjadi lebih besar untuk proyek dengan sistem rumit, seperti game dunia terbuka dengan banyak modul yang saling berinteraksi atau game daring berskala besar. Tanpa pemahaman yang kuat tentang perangkat lunak dan game engine, pengembang dapat kesulitan menyelesaikan tahap akhir yang membutuhkan penyempurnaan dan pengujian menyeluruh.
Pengembang yang pernah mencoba membuat game atau mod dengan bantuan AI juga membagikan pengalaman bahwa tahap akhir sering membutuhkan banyak pekerjaan manual. Mereka harus memperbaiki gambar, menyesuaikan detail visual, dan memastikan setiap elemen bekerja sesuai harapan. Bahkan, waktu yang dihabiskan untuk memperbaiki materi visual dapat jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk menulis kode.
Dengan demikian, keberhasilan Wuxia Survivors memperlihatkan potensi AI dalam membuka peluang bagi kreator tanpa pengalaman pemrograman untuk memasuki industri game. Namun, hasil tersebut juga menjadi pengingat bahwa mempercepat pembuatan prototipe dan menyelesaikan sebuah game dengan kualitas yang konsisten merupakan dua tantangan yang berbeda.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.


