LayarHijau.com – Drama kostum The Road to Splendor (《花开锦绣》) yang dibintangi Ding Yuxi dan Deng Enxi mulai mencuri perhatian setelah resmi tayang. Drama garapan sutradara Deng Ke ini menghadirkan alur yang bergerak cepat, karakter yang tidak mengikuti pola drama kostum romantis pada umumnya, serta konflik yang berkaitan dengan aturan feodal, kepentingan keluarga, dan persoalan perdagangan garam.
Salah satu kalimat dalam video promosi resmi drama ini, “Tidak penting terlahir sebagai siapa, yang penting menjadi siapa saat menjalani hidup,” juga ramai dibicarakan di media sosial Tiongkok. Kalimat tersebut dinilai menyentuh persoalan yang masih relevan hingga sekarang, terutama mengenai latar belakang keluarga, status sosial, dan pilihan seseorang dalam menentukan jalan hidupnya.
The Road to Splendor diadaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Zhi Zhi. Deng Enxi memerankan Fu Tingyun, putri dari keluarga Fu yang berasal dari Huayin. Ia tumbuh sebagai putri keluarga terpandang dan menjadi salah satu anggota keluarga yang paling disayangi.
Namun, kehidupannya berubah dalam sekejap setelah Fu Tingyun dituduh melakukan pelanggaran terhadap kehormatan perempuan. Tuduhan tersebut membuatnya kehilangan posisi di dalam keluarga dan bahkan menjadi sasaran pengorbanan demi menjaga nama baik keluarga.
Sang nenek yang selama ini menyayanginya pun memilih mempertahankan reputasi keluarga meski mengetahui bahwa persoalan tersebut memiliki latar belakang yang lebih rumit. Fu Tingyun kemudian diperintahkan untuk meminum racun sebagai bentuk pengorbanan demi nama baik keluarga Fu.
Di sisi lain, Ding Yuxi memerankan Zhao Ling, seorang pria yang berasal dari lingkungan masyarakat bawah dan terbiasa bertahan hidup dengan berbagai cara. Ia memiliki hubungan dengan dunia perdagangan garam dan kelompok dunia persilatan.
Pertemuan Fu Tingyun dan Zhao Ling mempertemukan dua orang dengan latar belakang yang sangat bertolak belakang. Fu Tingyun sebelumnya hidup sebagai putri keluarga kaya sebelum jatuh ke titik terendah, sedangkan Zhao Ling sejak awal sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan.
Dalam keadaan terdesak, keduanya akhirnya terpaksa menyamar sebagai pasangan suami istri dan memulai perjalanan pelarian bersama.
Tidak Mengandalkan Formula “Karakter Pria Menyelamatkan Perempuan”
Sejak episode awal, The Road to Splendor sudah memperlihatkan pendekatan yang berbeda. Ketika Fu Tingyun berada dalam situasi berbahaya, ia tidak hanya menunggu tokoh pria datang untuk menyelamatkannya.
Salah satu adegan yang paling mencuri perhatian memperlihatkan Fu Tingyun menggunakan makanan sisa untuk membuat dirinya muntah sebagai upaya menyelamatkan diri dari situasi yang mengancam nyawanya.
Zhao Ling juga tidak langsung tampil sebagai pria yang selalu siap melindungi pemeran utama wanita. Ketika berhadapan dengan Fu Tingyun, ia justru menegaskan bahwa perempuan tersebut harus mampu mengandalkan dirinya sendiri.
Dinamika tersebut membuat hubungan keduanya berkembang secara bertahap. Pada awalnya, Fu Tingyun dan Zhao Ling saling mencurigai, menguji, dan memperhitungkan kepentingan masing-masing. Namun, situasi yang mereka hadapi perlahan membuat keduanya menjadi rekan yang saling mengandalkan.
Alih-alih langsung menghadirkan kisah cinta romantis, drama ini terlebih dahulu membangun hubungan kedua karakter melalui rasa percaya yang tumbuh ketika mereka bersama-sama menghadapi bahaya.
Konflik Keluarga dan Persoalan Garam
Selain kisah pelarian kedua tokoh utama, The Road to Splendor juga memiliki dua jalur konflik penting, yaitu intrik keluarga dan persoalan perdagangan garam.
Keluarga Fu dari luar terlihat sebagai keluarga terpandang yang hidup dalam kemewahan. Namun, kehidupan para perempuan di dalam keluarga tersebut justru dikekang oleh tuntutan mengenai kesucian, reputasi, dan nama baik keluarga.
Kasus yang menimpa Fu Tingyun menjadi gambaran bagaimana aturan tersebut dapat mengorbankan seorang perempuan demi mempertahankan kehormatan keluarga. Bahkan kasih sayang seorang nenek terhadap cucunya tidak cukup untuk membuatnya mengesampingkan kepentingan keluarga.
Kontras antara kehidupan kalangan elite dan rakyat biasa juga diperlihatkan melalui adegan jamuan Dewi Bunga pada awal cerita.
Dalam adegan tersebut, keluarga Fu menaburkan garam berkualitas tinggi di atas salju dan lumpur agar sepatu para perempuan dari keluarga terpandang tidak kotor. Di sisi lain, masyarakat biasa justru mengalami kesulitan karena harga garam yang tidak terjangkau.
Kontras tersebut menjadi salah satu gambaran paling kuat mengenai kesenjangan sosial dalam drama sekaligus memberikan petunjuk mengenai konflik perdagangan garam yang nantinya berkembang menjadi bagian penting dari cerita.
Peran Baru bagi Ding Yuxi dan Deng Enxi
The Road to Splendor juga menjadi kesempatan bagi Deng Enxi untuk menunjukkan perkembangan kariernya dari aktris cilik menjadi pemeran dengan karakter yang lebih matang.
Sebagai Fu Tingyun, ia harus memperlihatkan perubahan besar dalam diri seorang perempuan yang awalnya hidup sebagai putri keluarga terpandang, kemudian kehilangan segalanya dan dipaksa bertahan hidup sebagai buronan.
Sementara itu, Ding Yuxi menghadirkan sisi berbeda melalui karakter Zhao Ling. Setelah dikenal lewat drama seperti Moonlight (《月光變奏曲》) dan Love Game in Eastern Fantasy (《永夜星河》), kali ini ia memainkan sosok yang lebih kasar, cerdik, penuh perhitungan, dan memiliki aura khas dunia persilatan.
Perbedaan karakter Fu Tingyun dan Zhao Ling menjadi salah satu daya tarik utama drama. Keduanya tidak hanya berbeda dalam status sosial, tetapi juga memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi masalah.
Berpeluang Jadi Kuda Hitam Musim Panas
Salah satu keunggulan The Road to Splendor sejauh ini adalah ritmenya yang cepat. Dalam beberapa episode awal, cerita sudah membawa penonton melewati pertemuan Fu Tingyun dan Zhao Ling, intrik keluarga Fu, tuduhan terhadap sang tokoh utama wanita, upaya pembunuhan, pelarian, hingga aksi pengejaran.
Pola tersebut membuat drama ini berbeda dari banyak drama kostum romantis yang lebih mengandalkan kisah cinta manis atau formula balas dendam.
The Road to Splendor justru menempatkan perjalanan para karakternya dalam persoalan yang lebih luas, termasuk status sosial, kepentingan keluarga, aturan feodal, serta kondisi masyarakat pada masa tersebut.
Dengan kombinasi alur yang cepat, karakter anti-klise, intrik keluarga, dan konflik perdagangan garam, The Road to Splendor mulai dipandang sebagai salah satu drama yang berpotensi menjadi kuda hitam pada musim panas tahun ini.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.

