LayarHijau.com — Drama era Republik The Lament of Autumn (玉簟秋) yang dibintangi Cheng Lei dan Xu Ruohan baru saja tamat dengan 40 episode. Akhir ceritanya ramai dibicarakan di media sosial Tiongkok. Para penonton lalu mengaitkannya dengan Overdo (这一秒过火), drama era Republik dengan Zhang Linghe dan Wang Churan yang juga berakhir tragis. Keduanya kembali memunculkan ungkapan di kalangan penonton drama Tiongkok bahwa dari sepuluh cerita cinta di drama era Republik, sembilan di antaranya berakhir pilu. Hong Kong 01 mengulas penyebabnya.
Era Republik adalah periode sejarah Tiongkok sejak 1912 hingga 1949, masa ketika negara itu dilanda perang dan pergolakan politik.
Dukung Layar Hijau
Layar Hijau adalah media independen yang hadir untuk berbagi berita dan informasi seputar drama Asia yang kalian cintai. Jika kalian menikmati konten kami, dukungan kecil dari kalian membantu Layar Hijau terus berjalan dan menghadirkan lebih banyak cerita untuk para penggemar.
Setiap dukungan berarti bagi kami. Terima kasih sudah membaca, mengikuti, dan menjadi bagian dari perjalanan Layar Hijau.
Untuk pengguna di Indonesia
Untuk pengguna internasional
Informasi lebih lanjut, klik di sini.
Peringatan spoiler: artikel ini membahas ending kedua drama.
Ending The Lament of Autumn
The Lament of Autumn diadaptasi dari novel karya penulis daratan Tiongkok Ling Xi, bagian dari rangkaian “tiga novel era Republik” miliknya dengan judul yang sama. Judulnya diambil dari baris puisi penyair perempuan era Dinasti Song, Li Qingzhao.
Ceritanya mengikuti Ye Pingjun (Xu Ruohan), pelajar perempuan dari keluarga miskin yang bekerja untuk membiayai pengobatan ibunya. Ia tanpa sengaja terseret upaya pembunuhan terhadap panglima muda Yu Changxuan (Cheng Lei). Keduanya lalu bertaruh bahwa kasus itu bisa diselidiki dalam sepuluh hari. Dari taruhan itu hubungan mereka berlanjut menjadi pernikahan kontrak. Setelah sempat berpisah karena salah paham, mereka akhirnya berjuang bersama melawan invasi Jepang.
Di episode terakhir, Yu Changxuan memimpin pasukan mempertahankan garis pertahanan Gubeikou hingga gugur. Ayahnya, Yu Zhongquan (Zhang Fengyi), tewas tertembak saat melindungi sang putra. Ibunya, Zhao Baoru (Xu Fan), kembali ke rumah keluarga Yu dan gugur bersama musuh. Hampir seluruh pasukan keluarga Yu ikut gugur.
Ye Pingjun tinggal bersama putra mereka, yang dipanggil Xiaoyu’er (akhiran “er” adalah panggilan sayang dalam bahasa Mandarin). Saat Xiaoyu’er bertanya kapan ayahnya pulang, Ye Pingjun menjawab, “Kalau daun maple memerah, ayah akan pulang.” Ia terus menunggu, padahal Yu Changxuan tidak akan pernah kembali.
Menurut HK01, versi drama sudah memangkas bagian novel yang terlalu menyedihkan. Meski begitu, akhir ceritanya tetap tragis dan membuat banyak penonton menangis.
Ending Overdo
Overdo diadaptasi dari novel Ru Guo Zhe Yi Miao, Wo Mei Yu Jian Ni (如果这一秒,我没遇见你) karya penulis daratan Tiongkok Fei Wo Si Cun. Ceritanya berpusat pada Murong Qingyi (Zhang Linghe) dan Ren Susu (Wang Churan). Ren Susu kembali dengan nama samaran Fang Mulan dan bertunangan dengan kakak Murong Qingyi, Murong Qingyu, sehingga ia dan Murong Qingyi kini berstatus ipar. Di sisi lain, dendam atas pembantaian satu keluarga membuat hubungan mereka makin rumit.
Ending drama ini disebut lebih kejam. Murong Qingyi tewas bersama tokoh antagonis di sebuah pabrik air dan jasadnya terbakar. Kakaknya, Murong Qingyu, ditembak saat pesta pernikahan. Komandan divisi Tang Gongliang menyiram tubuhnya dengan bahan mudah terbakar lalu menyulut api, agar nyalanya menandai lokasi pabrik obat bagi pilot di udara. Mata-mata Li Bai tewas dengan banyak luka tembak. Nama baiknya baru bersih dari cap pengkhianat setelah ia meninggal.
Praktis semua tokoh pria utama gugur. Hanya Ren Susu yang tersisa, pergi ke selatan seorang diri bersama putranya yang masih kecil. Untuk mengobati kekecewaan penonton, tim produksi merilis cerita tambahan di semesta paralel yang mempertemukan kembali keluarga tokoh utama.
Mengapa ending drama era Republik cenderung tragis
Menurut ulasan HK01, penyebabnya terletak pada latar zamannya. Para tokoh hidup di masa ketika bangsa dan negara sedang hancur akibat perang, sehingga hampir mustahil bagi siapa pun menjalani sisa hidup dengan utuh. Mereka tidak berpisah karena kurang cinta. Perang dan tugas membela negara memaksa mereka berpisah, dan itu yang membuat kematian para tokoh terasa wajar, bukan sekadar bumbu untuk memancing air mata.
Kedua drama ini dinilai berhasil karena tidak memakai cara menyedihkan yang dibuat-buat. Dalam kondisi sekarat, Yu Changxuan mengenang saat-saat manis bersama istrinya. Murong Qingyi meninggalkan pesan: “Dulu aku yang menunggumu, sekarang giliranmu menungguku.”
Nasib pribadi para tokoh terseret arus sejarah. Mereka mengorbankan nyawa demi negara, tetapi tak sempat menjalani sisa hidup bersama orang yang dicintai. Yang tersisa hanyalah orang yang ditinggalkan, seperti Ye Pingjun dan Ren Susu. Karena itu, ending Overdo disebut menyakitkan bukan hanya karena para tokohnya gugur, tetapi karena yang hidup harus melanjutkan hidup seorang diri. Kepiluan yang lahir dari zaman inilah yang disebut membuat drama era Republik terus punya daya tarik.
Kaca Pembesar HP

Produk inovatif.
Tonton drama di ponsel di layar lebih besar.
Kualitas hingga HD, harga murah meriah.
Holder Jepit HP

Aksesoris tonton drama.
Jepitan kuat dan fleksibel, harga murah meriah.
Tangan tidak pegal pegang HP saat tonton drama. Cocok untuk nonton sambil tiduran.
Proyektor HP

Proyektor HP untuk tonton drama di layar besar.
Kualitas HD lengkap dengan speaker. Harga terjangkau.


