Dialog dalam Drama A Dream within a Dream Dianggap Sindir Kondisi Industri Hiburan di China, Picu Perdebatan

Timotius Ari
Disclosure: Situs ini mungkin berisi tautan afiliasi, yang berarti kami bisa mendapatkan komisi jika kalian mengklik tautan tersebut dan melakukan pembelian. Kami hanya merekomendasikan produk atau layanan yang kami yakin bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas dukungan kalian!
- Advertisement -

LayarHijau.com – Drama fantasi romantis A Dream within a Dream yang tayang perdana pada 26 Juni 2025 di slot “Happiness Theater” Jiangsu Satellite TV langsung menjadi sorotan publik. Selain menawarkan kisah imajinatif tentang dunia fiksi, drama ini menarik perhatian karena salah satu dialognya dianggap menyindir keras realitas dunia hiburan Tiongkok.

Drama ini dibintangi Li Yitong dan Liu Yuning, dan mengisahkan tentang Song Xiaoyu, seorang aktris kelas bawah yang nyaris tak dikenal. Ia tiba-tiba terjebak dalam dunia fiksi dari drama kostum yang sedang ia audisi, dan menjelma menjadi karakter tragis bernama Song Yimeng. Sebelum sempat memahami keadaannya, ia terus bertemu dengan Nan Heng (Liu Yuning), tokoh utama pria dalam cerita.

Berusaha menghindari akhir tragis yang telah ditentukan, Song Xiaoyu mencoba mengubah alur cerita menggunakan akal dan pengetahuannya tentang plot. Namun, setiap usaha justru membuatnya semakin terjebak. Seiring waktu, para karakter dalam cerita—termasuk Nan Heng—mulai menyadari bahwa mereka dikendalikan oleh naskah, dan berusaha melawan takdir yang telah ditentukan.

- Advertisement -

Namun yang paling memancing perdebatan bukanlah kisah fantasinya, melainkan sejumlah dialog yang dinilai menyinggung praktik tidak sehat dalam industri hiburan. Menurut pemberitaan Sohu Entertainment, beberapa kutipan yang menjadi sorotan di antaranya:


– “Ada 900 adegan, saya ingin semua bagian penting dan sorotan jatuh pada pemeran pria.”
– “Bukankah sudah ada pemeran pengganti untuk adegan membaca, bertarung, tangan, bahkan adegan tanpa busana?”
– “Alasan kamu bisa dapat peran utama wanita, karena kami sudah memilih semua aktris yang bersedia jadi pemeran pendukung untuk tokoh pria, dan akhirnya pilihan jatuh ke kamu.”
– “Judul drama ini salah, tidak ada hubungannya dengan tokoh pria kita.”

- Advertisement -

Kalimat-kalimat tersebut langsung viral di media sosial. Banyak warganet menganggap naskah drama ini menyindir secara terang-terangan praktik pilih kasih, dominasi tokoh pria, dan proses pemilihan pemeran yang tidak adil dalam industri drama Tiongkok.

Karena diskusinya makin ramai, penulis skenario drama ini akhirnya memberikan klarifikasi singkat yang bernada bercanda sekaligus membela diri:


“Bukan saya, saya nggak tahu apa-apa! Saya ini cuma penulis biasa!!!”


Pernyataan ini cepat menyebar di internet dan justru memperbesar minat terhadap drama ini.

Terlepas dari kontroversinya, A Dream within a Dream menuai pujian karena alurnya yang tidak biasa, pendekatan visual yang puitis, dan tema tentang pemberontakan terhadap takdir. Penonton diajak menyaksikan bagaimana para karakter “merobek naskah” demi menentukan jalan hidup mereka sendiri—yang secara tidak langsung juga menggambarkan perlawanan terhadap struktur kekuasaan di balik layar dunia hiburan.

- Advertisement -
Preorder Novel Hidden Love & The First Frost
Preorder Novel Hidden Love dan The First Frost Bahasa Indonesia sudah dibuka
- Advertisement -
Share This Article
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments