LayarHijau.com – Masalah dengan sasaeng (penggemar obsesif yang menguntit selebritas) kembali mencuat setelah insiden terbaru yang menimpa Liu Yuning pada Senin, 24 November. Saat sedang melakukan livestreaming, ponselnya tiba-tiba menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. Ia langsung menolak sambungan itu dan menegaskan, “Mengangkat telepon itu cuma membiasakan kebiasaan buruknya. Dia tidak punya kualifikasi untuk berbicara dengan saya.” Menurut laporan dari platform Tiongkok, gangguan seperti ini sudah terjadi berulang kali. Penelepon sengaja menghubungi setiap kali ia sedang siaran, hingga akhirnya Liu menghentikan penggunaan nomor telepon resmi identitas dan beralih ke layanan komunikasi non-resmi karena terlalu sering diganggu.

Lebih lanjut, laporan Sina Entertainment menyebut bahwa Liu tampak pasrah namun tetap jengkel dengan gangguan yang terus terjadi. “Saya sudah terbiasa. Dia bukan orang pertama yang menelepon saya, dan bukan yang terakhir,” ujarnya. Ia juga mengungkap bahwa setelah ia mulai lebih sering membagikan kegiatan sehari-hari, penguntit bahkan muncul di ruang rekaman dan gym. “Ada batas dalam interaksi antarmanusia. Kalau melewati batas itu, rasanya sangat tidak nyaman,” katanya.

Komentar pengguna Weibo pun bermunculan, mengecam keras perilaku sasaeng tersebut:
“Penguntit ini benar-benar arogan! Sampai berani menelepon saat dia live.”
“Idola itu harus didukung, bukan diteror.”
“Dia terlalu populer, pasti ada saja orang aneh seperti itu.”
“Mencintai seseorang harus dimulai dari menghormati batasan.”
Sayangnya, masalah dengan penguntit bukanlah fenomena yang langka di industri hiburan Tiongkok. Beberapa aktor pria lainnya juga mengalami gangguan serupa sepanjang tahun ini.
Aktor Zhang Linghe mengalami salah satu insiden yang merepotkan ketika informasi hotel tempat ia menginap bocor ke publik. Sasaeng berdatangan dan berkumpul di sekitar hotel, bahkan sebagian menyelinap ke area servis dan menunggu semalaman. Demi keselamatan, tim Zhang terpaksa melakukan evakuasi darurat dan memindahkannya ke hotel lain lima kali dalam satu malam. Situasi itu membuat acara tatap muka yang seharusnya digelar keesokan harinya dibatalkan karena risiko terlalu tinggi.
Aktor Ren Jialun juga menghadapi gangguan berupa penguntit yang membuntutinya di bandara dan berulang kali mencoba mendekat secara agresif. Studio Ren mengecam keras tindakan tersebut dan menegaskan bahwa keselamatan sang aktor menjadi prioritas utama. Mereka menyerukan agar perilaku penguntitan segera dihentikan karena berpotensi menimbulkan insiden serius.
Kasus lain datang dari aktor Ao Ruipeng yang sempat berhadapan langsung dengan penguntit di jalan raya. Dalam video yang viral di Weibo, Ao terlihat turun dari mobil dan berdiri menghadang kendaraan para penguntit yang mengikutinya dari jarak berbahaya. Ia meminta mereka berhenti membahayakan keselamatan sebelum studionya mengumumkan bahwa insiden itu telah dilaporkan ke polisi. Studio juga menegaskan bahwa penguntitan semacam ini bukan kejadian tunggal, karena sebelumnya Ao telah dibuntuti di area tempat tinggal, bandara VIP, hingga belakang panggung.
Rangkaian kasus ini menunjukkan bahwa masalah penguntitan tidak hanya terjadi pada satu atau dua selebritas, tetapi telah menjadi isu yang lebih luas dalam ekosistem hiburan modern. Karena itu, perbandingan dengan praktik penanganan di negara lain memberikan gambaran bagaimana industri global mencoba mengatasi ancaman serupa.
Di berbagai negara, industri hiburan memiliki pendekatan berbeda dalam menangani penguntit dan penggemar obsesif. Korea Selatan menerapkan daftar hitam sasaeng, aturan konser yang ketat, serta pengawalan profesional yang selalu melekat pada idola. Jepang menekankan perlindungan privasi selebritas melalui regulasi yang tegas, termasuk aturan yang memungkinkan pengusiran langsung bagi penggemar yang melanggar batas selama acara.
Sementara itu, industri hiburan di Amerika Utara dan Eropa lebih mengandalkan pendekatan hukum seperti restraining order, peningkatan keamanan hunian, dan kerja sama dengan kepolisian. Kebijakan perlindungan data pribadi seperti GDPR turut membatasi penyebaran informasi pribadi selebritas. Meski menggunakan metode berbeda, tren global menunjukkan satu pola: pelanggaran privasi selebritas terjadi di seluruh dunia, dan industri hiburan makin memperketat sistem keamanan untuk melindungi para artis dari risiko penguntitan.










