LayarHijau.com – Golden Rooster Awards ke-38 resmi berakhir, namun bukannya perayaan kemenangan yang menjadi topik hangat, justru absennya tim produksi Ne Zha 2 yang mencuri perhatian publik. Ketidakhadiran mereka untuk menerima penghargaan Best Animated Feature membuat banyak netizen kembali menyoroti keadilan penjurian ajang film paling bergengsi di Tiongkok itu.
Selama ini, meski sutradara Jiaozi dikenal jarang tampil di muka publik karena fokus penuh pada proses kreatifnya, tim produksi Ne Zha 2 hampir selalu mengirimkan perwakilan ke berbagai acara penghargaan. Namun kali ini berbeda. Tidak ada siapa pun yang naik ke panggung, dan akun resmi mereka pun tak mengeluarkan pernyataan apa pun. Situasi ini membuat publik bertanya-tanya: apakah tim sedang terlalu sibuk, atau mereka memang tidak lagi menaruh perhatian pada Golden Rooster?
Sebelumnya, pembawa acara Su Youpeng memberikan klarifikasi resmi. Pada malam penghargaan 15 November di Xiamen, ia menyampaikan bahwa tim Ne Zha 2 tengah fokus pada pengembangan karya selanjutnya sehingga tidak dapat hadir. Piala dan sertifikat akan diserahkan kemudian oleh panitia. Setelah itu, frasa “Jiaozi terlalu berani” masuk daftar trending di Weibo, karena sutradara Jiaozi sebelumnya memang pernah berkata bahwa ia tidak akan menghadiri acara apa pun sebelum karya barunya selesai. Banyak netizen menilai ia benar-benar memegang prinsipnya.
Meski ada klarifikasi resmi, sebagian besar netizen tetap merasa absennya tim Ne Zha 2 seperti “pertanda” tidak langsung terhadap menurunnya kepercayaan industri terhadap Golden Rooster. Banyak yang menganggap ajang ini semakin terasa seperti acara yang terlalu dikendalikan oleh kalangan dalam, sehingga publik tidak lagi merasakan kompetisi yang benar-benar terbuka. Komentar satir pun bermunculan, menyebut penghargaan tersebut sebagai “Golden Mou Awards”, referensi langsung pada pengaruh besar sutradara Zhang Yimou.
Sebagai salah satu sosok paling berpengaruh dalam perfilman Tiongkok, Zhang Yimou menjabat ketua dewan juri tahun ini. Masalah utama bukan pada kelayakan posisinya, melainkan pola pemenang yang—menurut publik—terasa terlalu dekat dengan orang-orang yang sudah lama berada dalam lingkar kerja sama yang sama. Jackson Yee, yang memenangkan Best Actor, telah tiga kali berkolaborasi dengannya. Kekaguman Zhang Yimou terhadap Jackson Yee juga sering terdengar dalam berbagai wawancara. Sementara itu, Song Jia, yang memenangkan Best Actress, adalah pemeran utama film terbarunya.
Kemenangan Song Jia lewat film Her Story juga memicu perdebatan. Meski filmnya tidak buruk dan Song Jia adalah aktris berkualitas, penonton menilai bahwa beberapa kandidat lain justru memberi performa yang lebih menantang. Salah satu yang banyak disebut adalah Yong Mei lewat Like a Rolling Stone, yang dinilai menunjukkan permainan emosi yang lebih halus dan kompleks. Hal ini memunculkan komentar pedas dari publik, termasuk sindiran bahwa bisa saja nanti semakin banyak film yang gencar mempromosikan para aktornya sebagai peraih penghargaan besar, karena tren kemenangan yang terlihat begitu berulang.
Ketika publik menelusuri daftar lengkap juri, tanda tanya semakin besar. Aktor Zhang Yi telah berulang kali bekerja bersama Zhang Yimou. Para juri teknis seperti sinematografi, artistik, dan penyuntingan juga memiliki rekam jejak panjang bekerja bersama sutradara tersebut sejak era Hero dan House of Flying Daggers. Tidak mengherankan jika netizen menjuluki komposisi juri tahun ini sebagai “pasukan Zhang Yimou”.
Kritik ini semakin menguat ketika mengingat perhelatan Golden Rooster tahun lalu, di mana film Zhang Yimou, Article 20, menjadi pemenang besar meski ia tidak menjadi juri kala itu. Namun beberapa rekan dekatnya tetap berada dalam jajaran penilai. Pola kemenangan yang berulang dua tahun berturut-turut membuat sebagian publik merasa bahwa penghargaan ini semakin kehilangan keragaman perspektif.
Pada akhirnya, persoalan yang dipermasalahkan bukanlah kemampuan Zhang Yimou, prestasi Jackson Yee, atau kualitas film-film pemenang. Publik tidak menolak kualitas mereka. Yang dipersoalkan adalah struktur penjurian yang terasa terlalu “berputar pada orang-orang yang sama”, sehingga menimbulkan kesan bahwa penghargaan ini hanya berputar di lingkaran tertentu. Ketika kepercayaan publik terhadap independensi penilaian terus terkikis, sulit bagi Golden Rooster mempertahankan citra sebagai tolok ukur tertinggi film Tiongkok.
Absennya tim produksi Ne Zha 2 pada malam penghargaan kini menjadi simbol baru dari keresahan tersebut—seolah memperkuat anggapan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Selama transparansi dan keragaman pandangan dalam penjurian tidak ditingkatkan, Golden Rooster akan terus dibayangi kontroversi—setiap tahun, dengan atau tanpa kehadiran pemenangnya.










