LayarHijau.com – Pengembangan sistem artis berbasis kecerdasan buatan oleh iQIYI kembali menjadi sorotan setelah sejumlah nama aktor ramai dikaitkan dengan database AI yang disebut melibatkan sekitar 100 artis.
Beberapa nama seperti Chen Zheyuan, Zhang Ruoyun, Wang Churan, hingga Li Yitong sempat beredar dalam pembahasan publik. Namun, melalui perwakilan masing-masing, para artis tersebut memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak pernah memberikan izin penggunaan wajah maupun suara untuk teknologi AI dalam bentuk apa pun.
Di tengah ramainya isu tersebut, iQIYI kemudian memberikan penjelasan resmi sekaligus menanggapi daftar nama artis yang beredar di publik.

Perusahaan menyebut teknologi ini sebagai AIGC (Artificial Intelligence Generated Content). Istilah ini merujuk pada proses pembuatan konten seperti film atau drama dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan, baik dalam tahap visual, suara, maupun produksi secara keseluruhan.
Terkait database artis dalam skala besar yang menjadi perhatian publik, iQIYI menjelaskan bahwa sistem tersebut merupakan bagian dari platform bernama Nadou Pro Artist Library. Platform ini berfungsi sebagai wadah untuk menghubungkan kreator dengan pihak artis dalam proyek berbasis AI.
“Artis yang bergabung hanya mewakili niat untuk terhubung dan berkomunikasi terkait proyek AI. Apakah akan berpartisipasi dan dalam bentuk apa, semuanya harus dinegosiasikan secara terpisah untuk setiap proyek,” jelas iQIYI dalam pernyataan resminya.
iQIYI menegaskan bahwa mekanisme ini tidak berbeda dengan produksi film dan drama konvensional. Aktor tetap membaca naskah, memilih proyek, dan menentukan keterlibatan mereka bersama tim atau agensi masing-masing.
Perusahaan juga membantah anggapan bahwa artis dapat dimasukkan ke dalam sistem tanpa persetujuan. “Tidak ada situasi di mana artis dimasukkan ke dalam sistem tanpa persetujuan mereka,” tegas iQIYI.
Lebih lanjut, iQIYI menekankan bahwa pengembangan AI dalam industri hiburan bertujuan untuk mendukung proses kreatif, bukan menggantikan manusia. Teknologi ini diharapkan dapat menurunkan hambatan produksi dan membuka peluang lebih luas bagi para kreator.
Dalam kesempatan yang sama, CEO iQIYI, Gong Yu, turut menegaskan prinsip tersebut. “Teknologi harus berpusat pada manusia. Teknologi tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penerapan AI bertujuan untuk menghadirkan lebih banyak karya berkualitas bagi penonton, sekaligus membantu para kreator. “AI digunakan untuk melayani penonton dengan menyediakan lebih banyak karya berkualitas, serta membantu kreator, termasuk aktor, agar dapat fokus pada proses kreatif,” lanjutnya.
Menurutnya, teknologi ini juga dapat memperluas industri dengan menarik lebih banyak kreator dan meningkatkan efisiensi produksi.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, iQIYI menyatakan akan tetap berpegang pada tiga prinsip utama dalam pengembangan konten, yakni menghargai waktu penonton, memperkuat sudut pandang generasi muda, serta meningkatkan efisiensi dalam penyampaian cerita. Tujuannya adalah menghadirkan karya yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan nilai emosional bagi penonton.
Melalui klarifikasi ini, iQIYI menegaskan bahwa pengembangan database artis AI tetap berada dalam kerangka kerja sama yang transparan, berbasis persetujuan, dan sejalan dengan praktik industri yang berlaku.










